DEMAK — Anak-anak TK Masyithoh di Desa Pilangwetan, Kebonagung, Demak, diajak mengenal jenis sampah organik, anorganik, dan B3 melalui permainan edukatif yang digelar mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang, baru-baru ini. Materi disampaikan dengan media pembelajaran visual dan contoh benda yang kerap ditemui anak-anak di rumah.
Koordinator Divisi Kesehatan Lingkungan KKN Posko 139, Athif, mengatakan anak-anak dipilih sebagai sasaran karena mereka adalah generasi yang akan membawa kebiasaan baik tersebut hingga dewasa. Ia berharap kebiasaan memilah sampah tidak hanya berhenti di sekolah, melainkan terbawa hingga ke lingkungan keluarga masing-masing.
"Melalui kegiatan ini kami berharap anak-anak tidak hanya mengetahui perbedaan jenis sampah, tetapi juga terbiasa membuang sampah pada tempatnya serta memahami pentingnya memilah sampah sebelum dibuang. Kebiasaan kecil yang dibangun sejak dini dapat memberikan dampak besar bagi kelestarian lingkungan di masa depan," ujarnya.
Praktik Memilah Lewat Permainan
Para murid tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan. Mereka diajak mempraktikkan cara memilah sampah sesuai jenisnya melalui permainan edukatif yang dirancang mahasiswa KKN.
Metode ini dipilih agar anak-anak lebih mudah memahami perbedaan sampah organik, anorganik, dan B3. Selama kegiatan berlangsung, para murid tampak antusias mengikuti setiap materi yang diberikan.
Menanamkan Budaya Peduli Lingkungan Sejak Dini
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KKN Posko 139 UIN Walisongo di bidang kesehatan lingkungan. Selain memberikan edukasi, mahasiswa juga berupaya membangun kesadaran kolektif warga tentang pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya.
Desa Pilangwetan sendiri merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Kebonagung yang menjadi lokasi pengabdian mahasiswa UIN Walisongo. Dengan menyasar anak usia dini, diharapkan budaya memilah sampah dapat tertanam lebih kuat dibandingkan mengubah kebiasaan orang dewasa yang sudah terlanjur terbentuk.