BREBES — Bencana tanah bergerak yang menerjang Desa Cilibur pada pertengahan Ramadan 1447 H meninggalkan kerusakan cukup parah di sejumlah titik. Salah satu yang paling terdampak adalah SMP Muhammadiyah 3 Paguyangan, yang bangunannya mengalami kerusakan berat. Jembatan akses utama warga sehari-hari juga ikut ambruk.
Kedatangan Tafsir disambut langsung oleh pengurus Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Cilibur, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Paguyangan, serta aparat desa setempat. Dalam sambutannya, Tafsir memberikan penguatan spiritual kepada warga yang tengah diuji.
Pesan Ketua PWM: Jangan Lelah Beramal Saleh
“Mari kita tetap bermuhasabah dan jangan lelah untuk ber-amar makruf nahi munkar. Adanya cobaan dan ujian bukan menjadi penghalang kita untuk beramal saleh,” ujar Tafsir di hadapan warga persyarikatan.
Ia juga mengingatkan agar warga Muhammadiyah tidak terkotak-kotak dalam satu golongan. “Kebermanfaatan untuk umat itu harus lebih diutamakan,” tandasnya.
Bantuan Stimulus Rp 126 Juta Disalurkan
Dalam kunjungan tersebut, Tafsir mentasarufkan zakat, infak, dan sedekah dari Lazismu PWM Jawa Tengah sebesar Rp 100 juta. Selain itu, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PWM Jateng turut memberikan bantuan Rp 26 juta. Total bantuan yang disalurkan mencapai Rp 126 juta.
“Bantuan ini adalah stimulus, agar warga persyarikatan tetap sabar, tetap tekun, bekerja untuk menggapai ridha Allah SWT,” tuturnya.
Gotong Royong Warga Bangun Jembatan Baru
Sebelum bantuan dari PWM turun, warga Desa Cilibur sudah bergerak sendiri. Mereka bergotong royong memperbaiki jembatan yang putus dan membangun tanggul tinggi untuk mengantisipasi bencana serupa. Jembatan baru itu menelan biaya Rp 300 juta yang seluruhnya berasal dari swadaya masyarakat.
Jembatan tersebut berada tepat di bawah Gedung SMP Muhammadiyah 3 Paguyangan. Proses pembangunannya berlangsung selama 45 hari, dari awal Juni hingga pertengahan Juli 2026. Jembatan ini vital untuk memulihkan aktivitas ekonomi, sosial, dan pendidikan warga.
Tanah Wakaf untuk Relokasi Sekolah
Untuk bangunan sekolah, perbaikan belum bisa dilakukan. Namun, tiga kakak beradik—Khudori, Muntasi, dan Sodik—telah mewakafkan tanah seluas 8.052 meter persegi untuk relokasi SMP Muhammadiyah 3 Paguyangan. Tanah persawahan itu berlokasi sekitar tiga kilometer dari lokasi sekolah saat ini, dengan kondisi datar, subur, dan memiliki sumber mata air melimpah.
Warga Muhammadiyah setempat juga telah membuka akses jalan menuju lahan wakaf tersebut. Proses pembangunan gedung sekolah baru tinggal menunggu realisasi.
Pemerintah Desa Alokasikan Dana Desa
Kepala Desa Cilibur, Nurochman, menyatakan pihaknya telah mengalokasikan dana desa untuk membantu relokasi sekolah. “Walaupun jumlahnya tidak banyak, tapi semoga bisa sedikit meringankan. Terutama untuk membebaskan tanah yang untuk akses jalan menuju ke tanah wakaf,” katanya.
Kepala SMP Muhammadiyah 3 Paguyangan, Ahmad Najib, bersama Ketua PRM Cilibur Ansori, menyampaikan terima kasih atas kunjungan dan bantuan yang diberikan. “Insya Allah mulai Agustus relokasi gedung SMP Muhammadiyah 3 juga segera dijalankan. Mohon doanya agar kegiatan pembangunan bisa berjalan dengan lancar,” ujar Ahmad Najib.