JAWA TENGAH — Rupiah dibuka melemah 39 poin atau 0,22 persen dari posisi penutupan sebelumnya. Angka ini menjadi yang terendah dalam beberapa sesi terakhir, mendekati level yang terakhir kali terlihat pada awal tahun ini. Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari gelombang pelemahan mata uang emerging market di Asia.
Ringgit Malaysia Pimpin Pelemahan, Won Korsel dan Yen Justru Menguat
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terpantau variatif. Ringgit Malaysia menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,25 persen terhadap dolar AS. Yuan China ikut tertekan 0,05 persen, disusul peso Filipina yang turun 0,03 persen.
Namun, beberapa mata uang justru berhasil menguat. Won Korea Selatan naik 0,11 persen, yen Jepang menguat 0,03 persen, dan dolar Singapura bertambah 0,02 persen. Dolar Hong Kong juga mencatatkan kenaikan tipis 0,01 persen. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen risiko masih bercampur aduk di pasar Asia.
Eskalasi Timur Tengah dan Minyak: Pukulan Ganda bagi Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal yang dominan. Eskalasi baru di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek perdamaian global.
"Eskalasi baru di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap prospek perdamaian dan mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini berpotensi menekan rupiah terhadap dolar AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Lonjakan harga minyak menjadi pukulan ganda bagi Indonesia sebagai negara importir minyak. Biaya impor energi yang membengkak memperburuk defisit transaksi berjalan dan menekan cadangan devisa, yang pada akhirnya membuat rupiah semakin rentan.
Rentang Perdagangan: Rp17.800 hingga Rp17.900
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS. Level Rp17.900 menjadi resistance psikologis yang krusial. Jika tembus, bukan tidak mungkin rupiah akan menguji level Rp18.000 dalam waktu dekat.
Investor dan pelaku bisnis disarankan untuk mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan. Kedua faktor ini akan menjadi penentu utama arah rupiah selanjutnya.
Investasi mengandung risiko.