KUDUS — Bawaslu Kudus menggencarkan program Bawaslu Goes To School dengan menyasar Madrasah Aliyah NU Muallimat Kudus. Sebanyak ratusan siswa kelas XI dan XII yang merupakan pemilih pemula mendapat materi tentang cara mengenali hoaks, menolak politik uang, dan memilih berdasarkan visi-misi kandidat.
Pemilih Muda Rentan Terpapar Disinformasi
Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu Kudus, Naily Faila Saufa, menyebut kalangan remaja saat ini memiliki akses informasi yang sangat luas. Namun, kondisi itu juga membuat mereka mudah terjebak hoaks, kampanye hitam, dan manipulasi opini di media sosial.
"Suara kalian bukan hanya pelengkap, tetapi penentu arah kebijakan bangsa ke depan," ujar Naily saat memberikan paparan di hadapan para siswa, baru-baru ini.
Tiga Langkah Jadi Pemilih Cerdas
Naily memaparkan beberapa langkah penting yang harus dilakukan pemilih pemula. Pertama, pastikan nama sudah terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Kedua, pelajari visi-misi dan rekam jejak setiap kandidat sebelum menentukan pilihan.
"Verifikasi informasi sebelum menyebarkan, serta gunakan hak pilih sesuai hati nurani," terang Naily menambahkan.
Karakter Kritis dan Mandiri Tanpa Politik Uang
Menurut Naily, pemilih muda harus memiliki tiga karakter utama. Mereka harus kritis terhadap janji politik, rasional dalam memilih berdasarkan program kerja dan kompetensi, serta mandiri tanpa tekanan atau pengaruh politik uang.
"Golput bukan solusi. Anak muda harus ikut menentukan masa depan bangsa melalui partisipasi aktif dan keputusan yang berbasis data," pintanya.
Kolaborasi dengan Kementerian Agama
Kegiatan di MA NU Muallimat Kudus merupakan kelanjutan dari kolaborasi antara Bawaslu Kudus dan Kementerian Agama Kudus. Program ini bertujuan memberikan edukasi demokrasi kepada pemilih pemula di lingkungan madrasah.
Naily menambahkan, pendekatan edukatif dan pengawasan partisipatif sejak bangku sekolah diharapkan mampu membangun budaya demokrasi yang sehat, kritis, dan partisipatif di kalangan generasi muda.