PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) mencatatkan kenaikan produksi minyak di Lapangan Handil sebesar lima persen menjadi 15.020 barel per hari (bopd) usai merampungkan program revitalisasi fasilitas hulu migas. Langkah strategis ini memperpanjang usia operasional lapangan yang telah beroperasi lebih dari setengah abad tersebut sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Keberhasilan ini dicapai melalui efisiensi pengerjaan yang tuntas satu hari lebih cepat dari target awal tanpa kecelakaan kerja.
Kenaikan volume produksi di Lapangan Handil, Wilayah Kerja (WK) Mahakam, Kalimantan Timur, menjadi sinyal positif bagi optimalisasi sumur-sumur tua (mature fields) di Indonesia. Setelah melewati fase pemeliharaan terencana atau planned shutdown, lapangan legendaris ini mampu melampaui performa produksi sebelumnya yang berada di kisaran 14.300 bopd.
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Sunaryanto, mengungkapkan bahwa peningkatan output sebesar lima persen ini merupakan hasil langsung dari optimalisasi sistem proses dan kompresor. Perawatan intensif pada fasilitas produksi Central Processing Area (CPA) terbukti mampu memulihkan keandalan aliran fluida di lapangan yang sudah beroperasi sejak 1970-an tersebut.
"Peningkatan produksi itu didukung oleh kinerja sistem proses dan compressor yang lebih optimal setelah pelaksanaan perawatan fasilitas," ujar Sunaryanto dalam keterangan resminya. Ia menekankan bahwa langkah ini adalah bagian dari komitmen perusahaan menjaga integritas aset objek vital nasional.
Modernisasi Aset di Lapangan Berusia 50 Tahun
Program bertajuk Handil Rejuvenation ini bukan sekadar pemeliharaan rutin. PHM melakukan peremajaan menyeluruh mengingat usia fasilitas produksi di CPA Handil yang sudah sangat matang. Evaluasi teknis menunjukkan bahwa pipa utama berukuran 16 dan 20 inci memerlukan pembaruan untuk menjamin keselamatan operasional sesuai standar terkini.
Dalam proyek ini, perusahaan mengganti pipa utama CPA sepanjang 350 meter. Selain infrastruktur fisik, aspek digitalisasi dan sistem pengamanan tak luput dari pembenahan. PHM melakukan retrofit pada Distributed Control System (DCS) serta Fire & Gas (F&G) System untuk memodernisasi sistem safety shutdown otomatis di lapangan tersebut.
Persiapan megaproyek ini sejatinya telah dimulai sejak 2023 melalui koordinasi ketat dengan SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Pekerjaan fisik di lapangan, mulai dari fabrikasi hingga penyambungan akhir (tie-in), dilakukan secara maraton agar dampak penghentian produksi sementara tetap minimal bagi target lifting nasional.
Efisiensi Kerja dan Standar Keselamatan Tinggi
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, memaparkan bahwa kompleksitas pekerjaan ini melibatkan hampir 1.000 personel yang bekerja dalam rotasi 24 jam. Meski menghadapi risiko tinggi, seluruh rangkaian pengerjaan yang memakan 241.176 jam kerja ini berhasil diselesaikan dengan catatan zero accident atau tanpa cedera yang tercatat.
Tim di lapangan berhasil menyelesaikan proses tie-in dan perawatan fasilitas satu hari lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan pada medio April. Efisiensi waktu ini berdampak signifikan pada pengurangan angka kehilangan produksi (production loss) yang awalnya diprediksi akan lebih tinggi selama masa shutdown.
Lingkup pekerjaan teknis lainnya mencakup perawatan empat unit kompresor dan delapan vessel, serta inspeksi pipa penyalur menggunakan teknologi Intelligent Pigging atau Inline Inspection (ILI). Inisiatif ini memastikan seluruh fasilitas pendukung produksi tetap andal dalam jangka panjang, sekaligus mendukung visi pemerintah dalam mencapai swasembada energi melalui Asta Cita.