PURWOKERTO — Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto menyebut potensi hujan lebat tersebar di sejumlah kabupaten dan kota dengan periode kejadian berbeda selama dasarian pertama November 2026. Peringatan mencakup 33 wilayah administratif, mulai dari Cilacap hingga Brebes, serta lima kota di Jateng.
Pada 1-3 November, potensi hujan lebat mencakup Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Magelang, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes.
Wilayah kota yang masuk periode ini adalah Kota Magelang, Surakarta, Salatiga, dan Semarang. Pada 4-6 November, daftar kabupaten menyusut menjadi 24 wilayah ditambah Kota Magelang dan Surakarta.
Periode 7-10 November, potensi hujan lebat diprakirakan terjadi di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Grobogan, Blora, Rembang, Sragen, Pati, Kudus, Jepara, dan Demak.
BMKG menetapkan peringatan dini curah hujan tinggi kategori Waspada pada dasarian I November dengan prakiraan 150-200 milimeter per dasarian di sejumlah wilayah. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, dan Magelang.
Peringatan serupa berlaku di Kabupaten Boyolali, Karanganyar, Grobogan, Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Kota Magelang, dan Kota Salatiga.
"Tidak ada wilayah di Jateng yang terindikasi masuk kategori Siaga dengan prakiraan curah hujan 200-300 milimeter per dasarian maupun kategori Awas dengan curah di atas 300 milimeter per dasarian," kata Goeroeh.
Peringatan dini kekeringan meteorologis nihil untuk seluruh wilayah Jawa Tengah. Kendati begitu, pemantauan hingga dasarian III Oktober 2026 menunjukkan 54 zona musim atau 100 persen zona musim di Jateng masih berada dalam periode musim kemarau.
Dari sisi dinamika iklim global dan regional, BMKG mencatat indeks Indian Ocean Dipole bulanan pada dasarian II Oktober 2026 sebesar 0,765 atau berada pada fase positif. Kondisi tersebut diprediksi bertahan hingga akhir 2026.
Anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar 3,05 yang menunjukkan kondisi El Nino sangat kuat. Fenomena tersebut diprakirakan masih bertahan hingga awal 2027.
Goeroeh mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak ikutan cuaca ekstrem. Banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang menjadi risiko utama yang perlu diantisipasi.
"Masyarakat juga diminta memantau perkembangan informasi cuaca hingga tingkat kecamatan melalui aplikasi Info BMKG maupun laman resmi BMKG," kata Goeroeh.