JEPARA — Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno menyatakan penanggulangan TB tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pihak. Hal itu disampaikannya saat mewakili Gubernur Ahmad Luthfi dalam Deklarasi Desa Siaga TB di Pendopo Kabupaten Jepara, Selasa, 13 Oktober 2026.
Keterlibatan pemerintah desa dan masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam mempercepat penemuan kasus serta memastikan pasien TB mendapat penanganan tepat.
Data hingga 9 Oktober 2026 menunjukkan keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat mencapai 84,07 persen. Sementara TB resisten obat berada di angka 79,54 persen.
Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) baru menjangkau 23,31 persen dari target 326.038 kasus. Capaian itu menjadi perhatian karena pencegahan dinilai belum berjalan secepat penemuan kasus.
Sumarno menekankan penguatan upaya pencegahan terutama bagi masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Penemuan kasus sejak dini, pemeriksaan diagnostik, dan tindak lanjut pengobatan harus dilakukan secara terintegrasi.
Pemprov Jateng mendorong integrasi program Active Case Finding (ACF) TB dengan layanan kesehatan primer. Integrasi tersebut diharapkan menyelaraskan skrining, rujukan, pencatatan, hingga tindak lanjut pasien.
Hingga 12 Oktober 2026, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Jawa Tengah telah melayani 18,8 juta orang. Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang dijalankan Pemprov Jateng telah dilaksanakan 1.857 kali pelayanan dengan sasaran sekitar 131.500 orang.
Sumarno meminta dukungan Kementerian Kesehatan untuk memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dan memperluas akses pemeriksaan diagnostik. Ia juga berharap pemerintah kabupaten/kota memprioritaskan penanggulangan TB melalui perencanaan, penganggaran, serta koordinasi lintas perangkat daerah.
Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Oktavianus menilai evaluasi program penanggulangan TB perlu terus dilakukan. Ia mengapresiasi skrining ketat terhadap kontak erat pasien TB di Kabupaten Jepara yang baru berlangsung di 107 dari target 161 titik.
"Artinya, program ini sudah berjalan sangat baik. Jadi, tiap tahun kita evaluasi agar makin baik," kata Benyamin.
Menurutnya, tantangan penanggulangan TB bukan hanya memastikan pasien menjalani pengobatan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sebelum jatuh sakit.
"Kontak erat itu harus mendapatkan obat pencegahan," ujarnya.
Benyamin menyebut program CKG menjadi salah satu upaya pemerintah mengubah kebiasaan masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya. Pemeriksaan dan skrining diharapkan mengetahui risiko penyakit lebih awal sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum kondisi memburuk.
Ia menyoroti pelaksanaan CKG di Jawa Tengah yang didukung program Speling. Kedua program itu dinilai membantu memperluas jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Melalui deklarasi Desa Siaga TB, pemerintah berharap pemerintah desa, fasilitas pelayanan kesehatan, kader, organisasi masyarakat, dan warga terlibat aktif. Peran mereka mencakup edukasi, penemuan kasus, pendampingan pasien, serta pencegahan penularan TB.
Penguatan skrining dan pencegahan TB diharapkan berkontribusi terhadap penurunan angka kesakitan sekaligus meningkatkan usia harapan hidup masyarakat dalam kondisi sehat.