PATI — Kebakaran melanda Tempat Penampungan Sementara (TPS) di Desa Plosojenar, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, pada Rabu (23/9/2026). Laporan masuk ke petugas sekitar pukul 10.00 WIB, dan sejak itu belasan armada dikerahkan ke titik api.
Kabid Damkar dan Linmas Satpol PP Pati, Dwi Prasetyo, menyebut pihaknya mengerahkan armada dari sejumlah pos dan instansi. Hingga laporan terakhir, proses pemadaman masih berlangsung dan api belum sepenuhnya bisa dijinakkan.
Dwi merinci armada yang diterjunkan berasal dari Pos Pati, Pos Juwana, BPBD, DPUTR, AWC Polresta, hingga relawan dari PG Trangkil dan Garudafood. Personel TNI turut membantu di lapangan.
"Kurang lebih ada 13 armada. Dari Pos Pati, Pos Juwana, armada 3 posisi di sana, dari BPBD, DPUTR, AWC Polresta, relawan PG Trangkil, Garudafood, TNI," ujar Dwi.
Meski armada sudah dikerahkan, pemadaman belum tuntas. Petugas masih berjibaku di lokasi bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) lain.
"Sementara ini masih pemadaman. Anggota saya, Pos Juwana, Pos Pati ada di sana dengan beberapa OPD lain. Polresta. Tapi belum terselesaikan," katanya.
Dwi mengungkapkan dua kendala utama di lapangan. Pertama, angin yang bertiup kencang membuat api cepat menyebar. Kedua, akses masuk mobil pemadam ke lokasi kebakaran sulit karena jalan sempit.
"Kendalanya angin. Anginnya kenceng banget. Terus lokasi masuk mobil tempat kebakaran sulit karena sempit. Kita harus hati-hati arah anginnya," jelasnya.
Kondisi itu memaksa petugas mengatur posisi dan arah penyemprotan agar tidak membahayakan personel maupun memperluas jangkauan api. Tumpukan sampah yang mudah terbakar turut mempercepat rambatan si jago merah.
Dari keterangan warga setempat, Dwi menyebut kebakaran diduga bermula dari pembakaran daun tebu kering atau slamper di sebelah TPS. Api kemudian menjalar masuk ke area penampungan sampah tersebut.
"Informasi sementara dari warga setempat bahwasanya di sebelah TPS ada pembakaran slamper, masuk ke TPS, dan TPS terbakar," terangnya.
Dugaan itu masih bersifat sementara dan belum melalui pemeriksaan lanjutan. Belum ada laporan resmi soal luas area yang terbakar maupun nilai kerugian.
Dwi mengimbau masyarakat tidak membakar sampah atau menyalakan api jika tidak diperlukan. Musim kemarau yang ekstrem membuat api cepat menyebar begitu ada bahan mudah terbakar di sekitarnya.
"Karena musim kemarau yang ekstrem sehingga menghidupkan api terus api cepat menyebar apalagi membakar sampah atau slamper tebu," pungkasnya.
Petugas masih berada di lokasi untuk melanjutkan pemadaman dan pendinginan. Penyebab pasti kebakaran akan dipastikan setelah proses penanganan selesai dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.