JAWA TENGAH — Real Madrid menelan kekalahan 1-2 dari Atletico Madrid dengan sepuluh pemain, dan Jose Mourinho memilih membawa selembar kertas A4 berisi tangkapan layar dua tekel pemain lawan ke konferensi pers. Aksi itu memicu perdebatan soal netralitas wasit yang menyeret nama Presiden La Liga, Javier Tebas.
Kekalahan Madrid terjadi di kandang rival sekota, memperpanjang catatan buruk mereka melawan Atletico dalam beberapa musim terakhir. Mourinho menilai dua tekel pemain Atletico seharusnya berbuah kartu merah, dan ia merasa wasit Spanyol terus merugikan timnya.
Kertas A4 dan Monolog Usai Laga
Mourinho datang ke ruang konferensi pers dengan selembar kertas A4 berisi tangkapan layar dua tekel pemain Atletico. Ia melambaikan kertas itu di depan wartawan sebelum melontarkan kritik panjang soal kepemimpinan wasit.
"Kita bisa menghemat waktu konferensi pers karena ceritanya sudah ada di sini," kata Mourinho sambil mengangkat kertas tersebut.
Nada protes itu bukan hal baru dari pelatih asal Portugal tersebut. Lebih dari dua dekade lalu, keluhannya soal wasit memicu gelombang ancaman dari fans yang berujung pada pensiun dini wasit Swedia, Anders Frisk. Sejak itu, kartu merah, larangan mendampingi tim, dan monolog usai laga menjadi bagian dari rekam jejaknya.
Tebas Serang Media, Bukan Mourinho
Presiden La Liga, Javier Tebas, akhirnya angkat bicara melalui media sosial. Ia merespons artikel di media Spanyol, El Debate, yang ditulis Tomas Gonzalez-Martin. Artikel itu menyebut wasit yang tidak memihak Madrid justru merusak liga yang menghidupi mereka.
"Ini soal narasi konspirasi permanen yang dibangun ulang," kata Tebas. "Artikel ini bilang wasit merugikan 'bisnis yang memberi mereka makan'. Sebenarnya apa yang diminta? Perwasitan berdasarkan pendapatan, jumlah penonton, atau lambang klub?"
Kritik Tebas terhadap gagasan perwasitan berbasis kepentingan komersial memang pada tempatnya. Namun ia membidik penulis opini, bukan pernyataan Mourinho, sehingga membuka celah tuduhan berpihak kepada Madrid.
Madrid Tuntut Pemimpin La Liga yang Netral
Madrid merespons dengan pernyataan resmi yang menuntut pergantian kepemimpinan di La Liga. Klub menilai Tebas memakai jabatannya untuk terus menyerang mereka.
"Klub kami menilai tidak dapat ditoleransi bahwa presiden La Liga menggunakan posisi institusionalnya untuk terus mendiskreditkan dan menyerang Real Madrid," bunyi pernyataan klub. "Kompetisi sepak bola profesional di Spanyol mendesak butuh pemimpin yang mampu mengelolanya dengan kewajiban dasar netralitas."
Sindiran Madrid jelas mengarah pada sosok yang mereka anggap berpihak pada Mourinho dan klubnya sendiri.
Reijnders Jujur Soal Uang, Bukan Trofi
Di sisi lain, gelandang Tijjani Reijnders membuat pengakuan jarang dari pesepak bola soal alasan kepindahannya. Ia hengkang dari Manchester City ke Al Qadisah di Arab Saudi dengan nilai kabarnya mencapai 100 juta euro untuk empat tahun.
"Semua orang pasti akan bilang ya untuk itu. Saya tidak ingin bekerja lagi setelah karier selesai," kata Reijnders. "Saya juga bisa menyiapkan generasi keluarga saya. Kalau pilihan ini membuat cucu saya hidup nyaman, kenapa tidak?"
Kontroversi yang Terus Berulang
Perseteruan Mourinho dengan perangkat pertandingan sudah menjadi pola yang sulit dipisahkan dari kariernya. Setiap kekalahan kerap diikuti narasi bahwa wasit berpihak pada lawan, dan kali ini Madrid ikut menanggung citra sebagai pihak yang merasa dirugikan.
Bagi La Liga, situasi ini menambah tekanan soal independensi perwasitan di tengah persaingan dengan kompetisi lain di Eropa. Tebas berada di posisi sulit: membela wasit tanpa terlihat memihak salah satu klub besar.