PEKALONGAN — Harga sayur mayur di sejumlah pasar tradisional Pekalongan anjlok tajam dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh liburnya operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menjadi pembeli utama sejumlah komoditas.
Pokcoy dan Buncis Turun hingga 60 Persen
Ustadzah, pedagang sayur di Pasar Wiradesa yang juga pemasok untuk dapur MBG, mengatakan penurunan harga paling terasa pada komoditas yang rutin dikirim ke program tersebut. Harga buncis misalnya, dari Rp12 ribu per kilogram kini merosot menjadi Rp5 ribu. Pokcoy yang sebelumnya Rp11 ribu per kilogram juga turun menjadi Rp5 ribu.
“Kalau untuk MBG, produk yang sering masuk itu pokcoy, buncis, jipang sama wortel. Sayur-sayur itu yang sekarang harganya turun drastis karena berkaitan dengan MBG,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Harga jipang (labu siam) juga terpangkas dari Rp8 ribu menjadi Rp4 ribu-Rp5 ribu per kilogram di tingkat eceran. Sementara wortel yang sempat menyentuh Rp14 ribu kini bertahan di kisaran Rp12 ribu per kilogram.
Pedagang: Harga Murah tapi Pembeli Sepi
Ironisnya, meski harga sayur sedang murah, Ustadzah mengaku jumlah pembeli justru berkurang drastis. “Kalau MBG jalan harga sayur memang lebih mahal, tapi anehnya banyak yang cari. Sekarang harga murah seperti ini malah yang beli sedikit,” tuturnya.
Penurunan harga juga melanda telur. Mawar, pemasok bahan pangan ke dapur MBG di Kabupaten Pekalongan, menyebut harga telur turun dari Rp27 ribu menjadi Rp23 ribu per kilogram. Di tingkat konsumen, warga Kecamatan Kajen, Fatehatul Umah, mengaku bisa membeli setengah kilogram telur hanya dengan Rp12 ribu.
Stok Menumpuk, Petani dan Perajin Tahu Tempe Ikut Terdampak
Mawar menambahkan, berhentinya penyerapan dari program MBG membuat hasil panen petani menumpuk. Ia menyebut banyak pedagang pisang yang dagangannya membusuk karena tidak laku. Petani sayuran seperti selada, pokcoy, dan brokoli juga mengalami gagal panen akibat kelebihan stok.
“Saya sedih, banyak pedagang pisang yang akhirnya pada busuk. Banyak juga yang minta saya bantu jualkan hasil panennya dengan harga selakunya,” ujarnya.
Tak hanya petani, perajin tahu dan tempe di Pekalongan juga merugi. Mereka sebelumnya telah menimbun bahan baku kedelai melalui Koperasi Tempe Indonesia (Kopti) dengan harapan permintaan tetap tinggi. “Uang untuk setorannya mengendap,” ungkap Mawar.
Fluktuasi Harga Sayur Dinilai Wajar, Tapi Dampak PSBB Mini Terasa
Meski mengakui penurunan harga cabai ikut terjadi, Ustadzah menegaskan itu bukan karena program MBG. “Kalau harga cabai sebenarnya bukan karena MBG, karena MBG juga jarang pakai cabai. Kalaupun cabai turun, itu memang karena kondisi pasar yang lagi musim sepi,” katanya.
Ia menambahkan, fluktuasi harga sayur sejatinya hal biasa karena tergantung pasokan dari sentra produksi. Namun, liburnya program MBG selama masa libur sekolah mempercepat dan memperdalam penurunan harga yang sudah terjadi secara musiman.
Mawar kini mengalihkan modal usahanya ke kegiatan lain agar perputaran uang tetap berjalan selama program MBG libur. Ia berharap program tersebut segera beroperasi kembali agar harga sayur kembali normal dan petani tidak terus merugi.