JAWA TENGAH — Anak gajah yang diberi nama 'Nona Seroja' itu lahir di kawasan konservasi yang dikenal sebagai salah satu habitat kritis gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Populasi subspesies ini terus menyusut akibat perambahan hutan dan konflik dengan manusia.
Dukungan Legislatif untuk Program Konservasi
Rajiv, yang membidangi urusan lingkungan hidup di parlemen, menilai keberhasilan breeding alami di Taman Nasional Tesso Nilo membuktikan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi. “Ini bukti bahwa jika habitat dijaga, gajah sumatera bisa berkembang biak secara alami,” ujarnya dalam keterangan pers, kemarin.
Menurut politisi tersebut, kelahiran Nona Seroja harus menjadi pemicu bagi pemerintah dan DPR untuk menggenjot alokasi anggaran perlindungan satwa. Ia mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperluas koridor ekologis gajah yang kerap terputus oleh perkebunan sawit.
Tantangan di Lapangan: Konflik dan Fragmentasi Habitat
Taman Nasional Tesso Nilo sendiri menghadapi tekanan berat dari aktivitas ilegal. Data Balai Besar KSDA Riau mencatat sedikitnya 15 titik konflik gajah-manusia terjadi sepanjang tahun lalu di sekitar taman nasional. Fragmentasi hutan menjadi penyebab utama gajah keluar masuk permukiman warga.
Kelahiran Nona Seroja, karenanya, bukan sekadar kabar gembira, melainkan juga pengingat bahwa tanpa pengamanan kawasan, populasi gajah sumatera yang diperkirakan tersisa 2.400-2.800 individu di alam liar bisa terus merosot.
Langkah Lanjutan yang Diharapkan
Rajiv mendorong Balai Taman Nasional Tesso Nilo untuk memperkuat patroli pengamanan kawasan dan melibatkan masyarakat sekitar dalam ekowisata berbasis konservasi. “Keberadaan Nona Seroja harus menjadi aset ekonomi bagi warga, bukan sumber konflik,” tambahnya.
Pemerintah sendiri tengah menyusun rencana aksi darurat konservasi gajah sumatera 2025-2029. Dokumen tersebut diharapkan memuat target konkret penghentian perambahan di habitat prioritas, termasuk di Tesso Nilo.