JAWA TENGAH — Xi Jinping tiba di Bandara Pyongyang dan disambut langsung oleh Kim Jong Un beserta istrinya, Ri Sol Ju. Dalam sambutan yang dilaporkan Kantor Berita Xinhua, Kim menjabat tangan Xi dengan hangat begitu pemimpin China itu turun dari tangga pesawat. Rombongan Xi didampingi diplomat senior Wang Yi dan Cai Qi, tokoh nomor lima di Partai Komunis China. Bendera kedua negara dikibarkan di sepanjang jalan utama ibu kota Korea Utara.
Pernyataan Kim Yo Jong Bantah Wacana Denuklirisasi
Pada Minggu (7/6), media pemerintah Korea Utara mengutip pernyataan Kim Yo Jong yang menolak keras pernyataan bersama Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump terkait denuklirisasi. "Informasi palsu," sebut pejabat senior partai berkuasa itu. Pernyataan ini secara langsung menepis harapan Washington bahwa Beijing dapat menjadi perantara untuk membawa Pyongyang kembali ke meja perundingan denuklirisasi.
Mitsuhiro Mimura, profesor Universitas Prefektur Niigata yang mengamati Korea Utara, menilai Trump mungkin meminta Xi menjadi jembatan untuk pertemuan puncak AS-Korea Utara tanpa prasyarat denuklirisasi. Namun, sikap dasar China justru membiarkan Washington dan Pyongyang menyelesaikan masalah itu sendiri. "Xi tampaknya tidak akan mengabaikan tujuan akhir China untuk menghilangkan senjata nuklir dari Semenanjung Korea, tapi Beijing tidak akan memaksakannya sekarang," ujar Mimura.
China dan Korut Lawan 'Hegemonisme' AS-Jepang
Dalam artikel yang diterbitkan Senin di Rodong Sinmun, corong resmi Partai Buruh Korea, Xi menyerukan China dan Korea Utara untuk menentang hegemonisme dan politik kekuasaan. Xi juga mengajak Pyongyang menolak segala skema yang bertujuan menghidupkan kembali militerisme dan merusak stabilitas regional. Pernyataan ini jelas ditujukan kepada Amerika Serikat dan Jepang, yang belakangan menjadi sasaran kritik Beijing.
China semakin gencar mengkritik kebijakan penguatan pertahanan Jepang di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi. Ketegangan memuncak setelah Takaichi menyatakan di parlemen pada November lalu bahwa serangan China terhadap Taiwan bisa dianggap sebagai "situasi yang mengancam kelangsungan hidup" Jepang, yang berpotensi memicu respons Pasukan Bela Diri Jepang. Beijing mengecam pernyataan itu sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri China.
Perjanjian 1961 dan Pemulihan Hubungan Pasca-Rusia
Hubungan Beijing-Pyongyang membaik setelah sempat memburuk akibat kerja sama militer Korea Utara dengan Rusia, termasuk pengiriman pasukan untuk membantu Moskow dalam perang di Ukraina. China adalah sekutu terdekat dan paling berpengaruh bagi Korea Utara dalam hal ekonomi. Kedua negara pernah bertempur bersama dalam Perang Korea 1950-1953 melawan pasukan PBB yang dipimpin AS.
Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Timbal Balik yang ditandatangani pada 1961 memuat ketentuan dukungan militer segera jika salah satu negara diserang. Rodong Sinmun dalam editorialnya, Senin, menegaskan Korea Utara akan terus melangkah maju dengan bergandengan tangan bersama China.