JAWA TENGAH — Jon Rahm memutuskan meninggalkan LIV Golf karena menilai arah kompetisi itu berubah terlalu jauh dari konsep awal yang ia yakini. Pebulu golf Spanyol berusia 31 tahun itu mengaku tidak bersedia mengikuti jalur "LIV 2.0" yang dinilainya sudah menyimpang dari semangat team golf.
Keputusan Rahm keluar dari LIV Golf menjadi salah satu babak paling menarik dalam saga panjang perpecahan papan atas golf dunia. Pemenang dua gelar major itu menandatangani kesepakatan pemisahan dengan LIV pada Oktober lalu, setelah sebelumnya bergabung pada Desember 2023 dengan nilai kontrak yang dilaporkan mencapai 300 juta dolar AS.
Sejak awal, Rahm memang tidak menyembunyikan ketidaknyamanannya terhadap perubahan arah kompetisi. Ia menilai LIV 2.0 kehilangan identitas yang membuatnya tertarik pada awalnya.
"Sebesar apa pun saya menyukai proyek dan ide LIV 1.0, saya tidak senang dengan perubahan yang mereka lakukan ke 2.0 dan saya tidak bersedia mengikuti jalur itu," ujar Rahm seperti dikutip dari pernyataannya.
Pebulu golf asal Spanyol itu menyebut tidak ada hal istimewa dari konsep LIV 2.0. Baginya, kompetisi tersebut justru bergerak menjauh dari format team golf yang jadi daya tarik utama dan berubah menjadi turnamen reguler biasa.
"Terlalu banyak ketidakpastian saat itu. Sepertinya arahnya sedikit menjauh dari team golf. Jadi lebih seperti turnamen reguler. Itu sebenarnya tidak pernah jadi pertimbangan besar," tambahnya.
Keputusan Rahm tidak bisa dilepaskan dari gejolak finansial yang melanda LIV Golf. Dana Investasi Publik Arab Saudi menarik dukungannya pada April setelah menginvestasikan lebih dari 5 miliar dolar AS, yang berujung pada pengajuan perlindungan kebangkrutan di Amerika Serikat pada September.
Liga kemudian mengamankan pendanaan potensial senilai 300 juta dolar AS untuk mencoba melanjutkan operasional melalui skema LIV 2.0. Namun Rahm memilih jalan keluar lewat kesepakatan pemisahan. ESPN melaporkan ia masih berhak menerima sekitar 100 juta dolar AS dari sisa kontraknya.
Sejumlah pegolf seperti Brooks Koepka sudah kembali ke PGA Tour setelah circuit berbasis Amerika Serikat itu menulis ulang aturannya pada Desember. Koepka diizinkan comeback dengan sejumlah sanksi, termasuk donasi amal 5 juta dolar AS.
Namun program anggota kembali itu ditutup pada 2 Februari, sementara Rahm masih terikat kontrak jangka panjang dengan LIV. Meski begitu, pada Mei lalu ia mencapai kesepakatan dengan DP World Tour untuk mempertahankan keanggotaan di circuit Eropa dan tetap memenuhi syarat tampil di Ryder Cup tahun depan.
"Brooks bisa kembali melalui kondisi tertentu. Saya tidak tahu apakah kemungkinan itu terbuka untuk saya atau tidak," kata Rahm.
"Tapi kalau saya harus menjalani suspensi satu tahun, saya rasa itu posisi yang cukup baik karena skenario terburuknya saya tetap bisa bermain di turnamen yang bagus (DP World Tour) selama setahun penuh."
Rahm juga membuka peluang menerima sanksi serupa Koepka bila ditawarkan. "Saya sangat ragu mendapat tawaran yang sama dengan Brooks, tapi kalau saya ditawari penalti yang persis sama, kemungkinan besar saya akan mengambilnya, ya," ujarnya.
Pegolf LIV otomatis dilarang tampil di PGA Tour selama satu tahun, sementara DP World Tour menyediakan jalur bagi 10 pegolf teratas untuk mengakses keanggotaan PGA Tour.