BOYOLALI — Kasat Reskrim Polres Boyolali, AKP Joni Aryanto, menyebut peristiwa bermula saat tetangga mendengar suara gaduh di rumah Subar sekitar pukul 05.20 WIB. Saksi yang mengintip dari celah dinding melihat korban sudah terlentang, sementara JS memukul kaki ayahnya untuk memastikan apakah korban masih hidup.
Saksi mendengar korban berteriak "Tulung-tulung Ya Allah" sebelum melihat penganiayaan berlangsung di sisi kanan rumah. Warga yang berdatangan sempat melihat korban diseret ke belakang rumah.
"Saat warga berdatangan ke lokasi dan pelaku lari ke arah pekarangan (rumah). Kemudian dikejar oleh warga sekitar dan berhasil diamankan oleh warga," ujar Joni.
JS ditangkap warga dan diamankan ke Polsek Wonosegoro. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa satu buah batu yang dipakai pelaku untuk menganiaya ayahnya.
Tetangga korban, Ngateni, menyebut JS memang sering mengamuk dan selalu membawa batu serta kayu ke mana-mana. Rumah warga pun pernah menjadi sasaran hingga kaca dan temboknya rusak.
"Itu emang anaknya (pelaku) suka ngamuk. Kalau pergi-pergi bawa batu sama kayu, enggak pernah dilepas, pasti bawa itu kayu sama batu buat mukul orang," ungkap Ngateni kepada wartawan.
Jaelani, adik ipar korban, menuturkan JS rutin mengonsumsi obat dari rumah sakit jiwa. Kondisinya sempat membaik, tetapi kerap kambuh dan mengamuk lagi.
Menurut Jaelani, keluarga sudah berulang kali membawa JS berobat, termasuk ke rumah sakit jiwa dan pengobatan alternatif di Temanggung sekitar tiga bulan lalu. JS baru sekitar delapan hari lalu pulang ke rumah di Wonosamodro.
"Kebetulan 8 hari di rumah ini, (8 hari) terakhir ini di rumah. Setiap malam itu tidak bisa tidur satu keluarga itu karena (JS) sudah kayak kerasukan," kata Jaelani ditemui di rumah duka.
Warga menyebut JS kerap membawa senjata tajam dan benda keras saat kambuh, sehingga keluarga meminta pendampingan. Polisi masih mendalami kasus ini dan menangani pelaku sesuai kondisi kejiwaannya.