SURAKARTA — Dwi Mahendra menjalani dua peran yang jarang berjalan seiring. Pagi hingga sore ia memimpin SLB A YKAB Surakarta, memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan. Selepas pulang sekolah, ia langsung berlatih sebagai atlet Traditional Dancesport Kota Surakarta hingga malam.
Rutinitas itu dijalani Dwi tanpa meninggalkan tanggung jawabnya di sekolah. Waktu selepas bekerja dipakai untuk mengasah kemampuan dan mematangkan penampilan di arena pertandingan.
Dwi membagi waktunya secara ketat. Ia menyebut proses latihan dancesport menuntut fokus tersendiri setelah jam kerja usai.
"Untuk proses di dancesport ini, saya lebih membagi waktu. Setelah pulang sekolah sampai sore, habis itu kita langsung latihan sampai malam. Jadi pagi sampai sore itu mengajar, terus sore ke malam kita latihan fokus ke Traditional Dancesport ini," ujar Dwi kepada tim media KONI Solo, Minggu (25/10/2026).
Menjalani dua peran dengan tanggung jawab berbeda membutuhkan pengaturan waktu dan komitmen. Sebagai kepala sekolah, Dwi harus memastikan urusan pendidikan tetap berjalan. Di sisi lain, ia ingin terus mengembangkan kemampuannya sebagai penari dan atlet.
Kerja keras Dwi berbuah pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026. Bersama pasangannya, Febrian Danang Isyawara, ia mempersembahkan medali emas untuk kontingen Kota Surakarta dari nomor Traditional Dancesport.
Capaian itu bukan sekadar prestasi olahraga bagi Dwi. Pengalaman bertanding memperluas pemahamannya tentang tari tradisional sekaligus membuka peluang mengenalkan bentuk kompetisi baru kepada siswa-siswi di sekolahnya.
Dwi bersyukur lingkungan kerjanya memahami latar belakangnya sebagai penari sebelum menjabat kepala sekolah. Saat mengikuti kompetisi, ia berkomunikasi dengan rekan-rekan guru untuk meminta izin sekaligus memastikan tanggung jawabnya di sekolah tetap terpenuhi.
"Alhamdulillah, teman-teman guru semuanya sudah tahu latar belakang saya sebagai penari. Ketika mengikuti ini juga saya izin ke guru-guru semuanya. Alhamdulillah dapat restu dan malah didukung," tuturnya.
Dukungan tersebut menjadi salah satu penyemangat Dwi untuk terus menjalani kedua aktivitasnya. Ia tetap bisa menekuni dunia tari tanpa mengesampingkan perannya di bidang pendidikan.
Bagi Dwi, membagi waktu bukan berarti harus memilih antara pekerjaan dan olahraga. Keduanya dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan diri selama tanggung jawab utama tetap dijalankan dengan baik.