Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 18.070 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Risk Off Global

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:51:01 WIB
Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp 18.070 per dolar AS pada perdagangan Jumat (23/10).

JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 10 poin atau 0,06% ke level Rp 18.070 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (23/10), melanjutkan posisi penutupan Kamis di Rp 18.060. Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk off global yang dipicu kekhawatiran atas sektor AI, eskalasi geopolitik di Timur Tengah, dan memburuknya kondisi fiskal Prancis. Pergerakan kurs hari ini menjadi ujian bagi komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang belum surut.

Data spot Bloomberg menunjukkan rupiah membuka perdagangan di Rp 18.070 per US$, hanya berselisih 10 poin dari penutupan sebelumnya. Pelemahan tipis ini menandai tekanan yang masih berlanjut setelah posisi Kamis (22/10) sore ditutup di Rp 18.060 per US$.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai tertahannya nilai tukar rupiah masih disebabkan sentimen di pasar ekuitas domestik yang terimbas kondisi global.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya sentimen risk off global oleh kekhawatiran AI, eskalasi geopolitik di Timur Tengah, dan memburuknya kondisi fiskal di Prancis," kata Lukman saat dihubungi, Jumat (23/10).

Tiga Faktor Eksternal yang Menekan Rupiah

Kekhawatiran terhadap sektor AI menjadi pemicu baru di pasar keuangan global. Ketidakpastian valuasi perusahaan teknologi berbasis kecerdasan buatan mendorong investor memutar dana ke aset safe haven, termasuk dolar AS.

Tekanan geopolitik di Timur Tengah menambah lapisan risiko bagi mata uang negara berkembang. Ketegangan yang belum surut membuat premi risiko investasi di kawasan Asia Tenggara ikut naik.

Kondisi fiskal Prancis yang memburuk melengkapi trio sentimen negatif bagi Eropa, yang berimbas pada arus dana keluar dari pasar negara berkembang. Kombinasi ketiganya memperkuat posisi dolar AS terhadap mayoritas mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Sentimen Investor Asing di Pasar Saham Jadi Pemicu Domestik

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti sebelumnya mengungkapkan sejumlah faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah. Selain eskalasi ketegangan geopolitik yang belum surut dan arah kebijakan moneter AS, gejolak sentimen investor asing di pasar modal Indonesia disebutnya turut menjadi penyebab.

"Perkembangan ini dipengaruhi serta oleh sentimen investor asing di pasar saham," kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Jakarta, Rabu (21/10).

Pernyataan tersebut memberi konteks bahwa tekanan terhadap rupiah tidak semata datang dari luar, tetapi juga dari dinamika arus dana asing di bursa domestik. Ketika investor asing menarik dana dari saham Indonesia, permintaan terhadap rupiah ikut melemah.

Instrumen Moneter BI untuk Menahan Pelemahan

Bank Indonesia menyatakan berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang tersedia. Salah satu langkahnya adalah memperkuat kebijakan insentif guna mendorong aliran masuk investasi portofolio asing.

BI juga mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (puva) sebagai bantalan terhadap gejolak eksternal. Insentif diberikan tidak hanya untuk instrumen swap dan DNDF beli lindung nilai konvensional kepada BI, tetapi juga untuk transaksi local currency transaction dengan negara mitra.

"Sehingga imbal hasil aset rupiah menjadi tetap menarik," kata Destry.

Langkah tersebut menyasar sisi permintaan: jika imbal hasil aset rupiah tetap kompetitif, dana asing diharapkan bertahan atau bahkan masuk kembali, sehingga tekanan jual terhadap rupiah bisa diredam.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Bagi investor obligasi, level rupiah di kisaran Rp 18.070 per dolar AS memperbesar peluang imbal hasil valas jika pelemahan berlanjut. Namun risiko sebaliknya muncul bila BI berhasil menstabilkan kurs secara agresif.

Pelaku bisnis dengan kebutuhan impor perlu mencermati pergerakan harian, karena selisih 10 poin per dolar AS berdampak pada struktur biaya bahan baku. Eksportir justru mendapat angin segar dari pelemahan ini, sepanjang tidak diikuti gejolak yang lebih tajam.

Pergerakan rupiah hari ini masih dalam rentang tipis. Yang perlu dicermati adalah apakah tekanan risk off global berlanjut ke sesi berikutnya, mengingat ketiga pemicu eksternal belum menunjukkan tanda mereda.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top