JAWA TENGAH — Aktor Reza Rahadian dan komedian Wendi Cagur memperkuat desakan agar kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia ditetapkan sebagai bencana nasional. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 1.481 hektare lahan masih terbakar hingga Rabu (21/10), mencakup enam provinsi prioritas. Desakan seniman ini muncul di tengah kabut asap yang kian menyiksa warga dan mulai berdampak ke negara tetangga.
Reza Rahadian menilai status bencana nasional bukan sekadar label administratif, melainkan pintu masuk bagi keterlibatan lebih banyak pihak dalam penanganan karhutla. Menurut aktor yang akrab disapa Reza itu, penetapan status tersebut tidak akan menurunkan nilai atau meremehkan upaya yang sudah berjalan.
"Ini kenapa pentingnya bagi saya, ya, status bencana nasional itu sebenarnya tidak mendegradasi nilai apa pun," kata Reza.
Ia menjelaskan, status bencana nasional membuka ruang partisipasi bagi organisasi di luar pemerintah untuk menyalurkan bantuan logistik hingga teknologi terbarukan. Reza juga menyoroti pentingnya fokus pada mitigasi, bukan hanya penelusuran pihak yang bertanggung jawab atas munculnya titik api.
Reza mengaku mengikuti perkembangan penanganan karhutla melalui sejumlah kanal berita. Ia memahami proses pencarian dalang di balik kebakaran sudah berjalan, tetapi menegaskan upaya mitigasi perlu ditingkatkan agar dampak kebakaran bisa ditekan.
"Saya yakin dan juga bisa memahami di satu pihak, gitu ya, bahwa ya upayanya memang dilakukan, tapi upaya itu perlu ditingkatkan," ujarnya.
Pernyataan Reza melengkapi suara publik yang menilai penanganan karhutla belum menyentuh akar masalah. Kabut asap yang meluas disebut telah mengganggu aktivitas harian warga di sejumlah daerah, terutama di Sumatra dan Kalimantan.
Dari kalangan pelawak, Wendi Cagur menyampaikan keresahan yang lebih membumi. Ia menggambarkan kondisi warga yang hidup di tengah kabut asap, di mana bernapas dan melihat pun menjadi sulit.
"Tapi lebih nyiksa lagi ketika kita tinggal di suatu tempat di mana napas aja susah, pandangan aja sulit," kata Wendi merespons krisis tersebut.
Melalui unggahan di Instagram, Wendi mendorong pemerintah mempertimbangkan penetapan bencana nasional. Ia berharap pemerintah daerah maupun pusat tidak menutup mata terhadap kondisi masyarakat yang kian tercekik polusi udara.
"Kalau memang sudah waktunya, dan memang sepertinya sudah seharusnya kejadian ini dijadikan bencana nasional," ucap Wendi.
Data BNPB hingga Rabu (21/10) menunjukkan sekitar 1.481 hektare lahan masih terbakar di berbagai wilayah. Luasan itu tersebar di enam provinsi prioritas penanganan karhutla, yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau, plus sejumlah wilayah lain.
Kebakaran yang berlangsung lama membuat masyarakat tercekik kabut asap. Dampaknya bahkan dirasakan hingga negara tetangga, menjadikan karhutla isu lintas batas yang menuntut penanganan serius.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman mengungkap alasan pemerintah belum berencana menetapkan karhutla di Sumatra dan Kalimantan sebagai bencana nasional. Ia menegaskan negara masih mampu menangani persoalan tersebut.
"Masalah penerapan bencana nasional, ya. Ya, sementara kita masih sanggup, ya, negara kita masih sanggup. Negara kita masih sanggup," kata Dudung usai rapat gabungan lintas kementerian di kantor Kemenko Polkam, Senin (19/10).
Pernyataan Dudung menjadi pembanding atas desakan para artis. Reza dan Wendi berada di barisan yang menilai eskalasi karhutla sudah pada tahap membutuhkan intervensi skala besar, sementara pemerintah masih memilih jalur penanganan yang berjalan saat ini.
Desakan seniman ini menambah tekanan publik terhadap pemerintah di tengah musim karhutla yang panjang. Sorotan dari figur publik biasanya memperluas jangkauan isu dan mendorong media serta warganet mengikuti perkembangan penanganan bencana asap.