BI Diprediksi Tahan Suku Bunga 5,75% di RDG Oktober 2026 Meski Rupiah Tertekan

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Rabu, 21 Oktober 2026 | 09:49:31 WIB
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky memproyeksikan BI-Rate bertahan di 5,75% pada RDG Oktober 2026.

JAWA TENGAH — Bank Indonesia diproyeksikan mempertahankan BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 20-21 Oktober 2026, kendati rupiah menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global dan arus keluar modal asing. Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai bank sentral lebih memilih stabilisasi nilai tukar ketimbang menaikkan suku bunga yang berisiko menggerus daya beli masyarakat.

Proyeksi tersebut disampaikan Teuku Riefky, Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), dalam keterangannya Rabu (21/10/2026). Menurut Riefky, BI tetap membuka ruang respons jika tekanan terhadap rupiah semakin meningkat.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan Suku Bunga BI di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026, sambil tetap bersiap untuk merespons jika tekanan terhadap Rupiah semakin meningkat," ujar Riefky.

Dilema Moneter: Stabilkan Rupiah atau Jaga Daya Beli

Riefky menilai BI menghadapi dilema dalam menentukan arah kebijakan moneter. Bank sentral harus menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertimbangkan tekanan inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Kenaikan suku bunga berpotensi menahan pelemahan rupiah. Namun langkah tersebut juga dapat membebani daya beli dan permintaan domestik. Kondisi itu membuat opsi menaikkan BI-Rate menjadi pilihan yang mahal secara ekonomi.

Inflasi September 2026 Capai 3,28%, Mendekati Batas Atas

Catatan LPEM FEB UI menunjukkan inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026. Angka itu mendekati batas atas sasaran BI sebesar 3,5%.

Kenaikan inflasi terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 4,37%, serta kelompok transportasi. Pelemahan rupiah yang berlanjut berisiko meningkatkan biaya impor dan bahan baku produksi sehingga menambah tekanan inflasi.

Tekanan Eksternal: The Fed dan Yield Spread SBN

Tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed). Selain itu, selisih imbal hasil (yield spread) antara Surat Berharga Negara (SBN) dan US Treasury menyempit.

Kondisi tersebut mengurangi daya tarik aset domestik bagi investor global di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan. Arus keluar modal asing pun menjadi risiko yang harus diantisipasi bank sentral.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Pasar

Jika BI benar-benar menahan suku bunga di 5,75%, imbal hasil SBN dan surat utang korporasi diproyeksikan bertahan di level saat ini. Bagi investor obligasi, yield yang relatif stabil masih memberi ruang untuk menjaga pendapatan tetap, meski spread terhadap US Treasury yang menyempit membatasi potensi penguatan harga.

Di pasar saham, keputusan menahan suku bunga cenderung netral. Sektor perbankan masih diuntungkan oleh biaya dana yang tidak naik, sementara emiten dengan beban utang valas dan ketergantungan bahan baku impor tetap rentan jika rupiah melemah lebih jauh.

Pelaku usaha yang mengimpor bahan baku perlu mengantisipasi risiko kurs. Pelemahan rupiah yang berlanjut akan menaikkan biaya produksi dan pada akhirnya menekan margin, terutama bagi industri yang belum melakukan lindung nilai (hedging).

Rapat Dewan Gubernur BI pada 20-21 Oktober 2026 menjadi penentu arah kebijakan moneter hingga akhir tahun. Pasar akan mencermati tidak hanya keputusan suku bunga, tetapi juga sinyal bank sentral soal bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top