JAWA TENGAH — General Motors menyatakan Cadillac CT5-V Blackwing tidak lagi berlomba head-to-head dengan BMW M5 atau Mercedes-AMG E-Class. Chief Engineer Corvette dan Performance Cars GM, Tony Roma, menyebut sedan V8 manual itu kini dibuat murni untuk penggemar, bukan untuk mengejar rival Jerman. CT5-V Blackwing sendiri menyandang gelar The Drive's Best Performance Car of 2026.
Pernyataan itu keluar dalam episode terbaru The Drivecast. Tony Roma, yang kini menjabat Executive Chief Engineer untuk Chevy Corvette dan Performance Cars di General Motors, menjawab pertanyaan soal nilai jual sedan mewah bertenaga V8 dengan transmisi manual di era yang didominasi SUV listrik.
"We're not competing head-to-head with anyone anymore," kata Roma, dikutip dari The Drivecast. Ia menambahkan, "With Blackwing and with CT5 in general, we're making a car that we want to buy."
Cadillac sebenarnya sudah sekitar 23 tahun berusaha menantang dominasi pabrikan Jerman. Titik awalnya adalah kemunculan CTS generasi pertama. Roma mengakui posisi Cadillac saat itu sebagai satu-satunya merek mewah full-line yang belum punya entri performa.
"We were kind of the last full-line luxury brand to not have a performance entry," ujarnya. Menariknya, Lincoln memilih bertahan di luar persaingan mobil performa sepanjang periode itu.
Namun sekitar generasi ketiga sebelum model yang dijual sekarang, GM mulai berhenti sekadar mengejar. Roma menyebut pihaknya mengamati pasar dan mendapati rival-rival sudah beralih ke penggerak semua roda, bodi lebih besar, bahkan hybrid. Bobot BMW M5 masa kini jadi bahan leluconnya.
"I joke with people it's the age-old story of the nimble, light, good-handling American car against the overpowered German imports," tutur Roma. Ia lalu menyebut situasi kini justru berbalik: CT5-V Blackwing yang dibuat di Amerika disebut lebih tajam secara dinamika dibanding kompetitor Jerman.
Roma menegaskan posisi Blackwing dalam struktur produk Cadillac. Menurutnya, Blackwing adalah kelanjutan lini V-Series, bukan sub-merek terpisah. Ia menyebut dirinya terlibat di hampir setiap sedan V-Series selama hampir 25 tahun terakhir.
Keterlibatan panjang itu, kata Roma, ikut mengubah persepsi Cadillac sebagai merek mewah modern. Soal volume penjualan CT5-V Blackwing yang tidak besar, ia mengaku tidak melihatnya sebagai masalah.
"All I can say is we don't necessarily look at it that way," ucap Roma. Ia justru menyoroti keunikan produk sebagai nilai jual utama. "Luxury is buying something unique and different, and this is becoming, in a weird way, unique and different," tambahnya.
Roma menantang siapa pun untuk menyebut sedan lincah berpenggerak roda belakang dengan transmisi manual yang setara CT5-V Blackwing. Menurutnya, banyak mobil super cepat di pasar, tetapi kombinasi roda belakang, manual, dan karakter handling lincah makin langka.
"Name me another rear-wheel drive manual, nimble sedan?" kata Roma. Ia menyebut situasi ini justru jadi momen bagus bagi penggemar otomotif. "I love the cars, I'm a fan just like you are, there's a reason we make them and tune them that way. They're really, really cool."
Pernyataan Roma sekaligus menegaskan komitmen GM pada lini Blackwing ke depan. Generasi berikutnya dari CT5, CT5-V, dan Blackwing sudah dikonfirmasi akan tetap memakai platform penggerak roda belakang. Yang lebih menarik, CT5-V generasi baru kabarnya akan mendapat opsi mesin V8 naturally aspirated dengan transmisi manual.
Keputusan Cadillac berhenti mengejar rival Jerman bukan berarti mundur dari segmen performa. Sebaliknya, GM memilih jalur berbeda: membuat mobil yang mereka sendiri ingin beli, lalu membiarkan pasar menilai apakah formula itu masih relevan di tengah arus elektrifikasi.