YOGYAKARTA — Forum Pemegang Saham Pengendali BPR/BPRS se-Jawa Tengah dan DIY Tahun 2026 digelar OJK Provinsi Jawa Tengah dan DIY di Yogyakarta. Kegiatan itu diikuti 178 peserta yang terdiri atas PSP BPR/BPRS, pimpinan OJK, pemerintah daerah, serta narasumber dari industri perbankan.
Kepala OJK Provinsi Jawa Tengah dan DIY Hidayat Prabowo mengatakan dinamika perekonomian, perkembangan teknologi, dan perubahan perilaku masyarakat membuka peluang bagi BPR/BPRS mengembangkan model bisnis yang lebih sesuai kebutuhan nasabah. Ketahanan ekonomi nasional maupun regional Jawa Tengah dan DIY dinilai menjadi momentum memperkuat fondasi usaha.
Hidayat menegaskan PSP memiliki posisi kunci dalam mendorong BPR/BPRS tumbuh sehat dan berkelanjutan. Penguatan kualitas aset, tata kelola, manajemen risiko, dan permodalan perlu berjalan seiring pengembangan bisnis dan inovasi.
"PSP memiliki peran strategis dalam mendorong BPR/BPRS untuk terus tumbuh sehat dan berkelanjutan. Penguatan kualitas aset, tata kelola, manajemen risiko, dan permodalan perlu berjalan seiring dengan pengembangan bisnis dan inovasi," kata Hidayat.
Dukungan PSP dan pengurus yang memiliki visi bersama disebut menjadi salah satu faktor penting agar BPR/BPRS berkembang berkelanjutan dan meningkatkan daya saing di tengah perubahan industri keuangan.
OJK menyoroti kualitas aset BPR/BPRS sebagai salah satu fokus penguatan. PSP dan pengurus didorong meningkatkan kualitas penyaluran kredit maupun pembiayaan melalui penguatan tata kelola dan manajemen risiko.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia serta strategi pengelolaan dan penyelesaian aset dinilai penting untuk menjaga kesehatan bisnis BPR/BPRS. Penguatan kualitas aset perlu dilakukan bersamaan dengan pengembangan bisnis dan inovasi.
"BPR/BPRS memiliki peran penting dalam melayani kebutuhan masyarakat dan mendukung perekonomian daerah. Karena itu, penguatan kualitas aset, tata kelola, dan permodalan perlu berjalan bersama dengan inovasi dan pengembangan bisnis," ujar Hidayat.
Selain kualitas aset, OJK mendorong PSP menjadikan penguatan struktur dan permodalan sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang. Sejumlah opsi dapat dipertimbangkan sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing BPR/BPRS.
Opsi tersebut mencakup konsolidasi, penggabungan usaha, maupun pengambilalihan sesuai ketentuan yang berlaku. Langkah itu diharapkan memperkuat kapasitas BPR/BPRS dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan masyarakat.
Forum ini juga menghadirkan narasumber dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Adityo Kusumo, yang membahas pentingnya membangun optimisme dan kesiapan menghadapi perubahan industri. Perubahan lingkungan bisnis disebut tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang berkembang melalui inovasi dan penyesuaian strategi.
PSP dan pengurus BPR/BPRS perlu memiliki visi bersama dalam menjalankan transformasi secara terencana. Penguatan model bisnis, pemanfaatan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta tata kelola dan manajemen risiko menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Transformasi perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing BPR/BPRS. Pendekatan itu diharapkan membuka sumber pertumbuhan baru sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha.
Forum ini menjadi ruang dialog antara PSP BPR/BPRS dan OJK untuk membahas perkembangan industri, kebijakan OJK, serta peluang penguatan dan pengembangan BPR/BPRS di Jawa Tengah dan DIY.
"Kami ingin komunikasi dengan PSP tidak berhenti pada forum formal. Dialog seperti ini penting untuk membangun pemahaman yang sama sekaligus menggali berbagai peluang penguatan industri," katanya.
OJK akan terus membuka ruang komunikasi agar PSP dan pengurus dapat menyampaikan kondisi serta kebutuhan BPR/BPRS. Berbagai persoalan yang dihadapi industri diharapkan dapat dicarikan langkah konstruktif sesuai kewenangan masing-masing pihak.
Dalam forum tersebut, perwakilan PSP BPR/BPRS menyampaikan komitmen mendukung penguatan tata kelola, kualitas aset, permodalan, dan transformasi bisnis.