Penjualan Motor Listrik RI Baru 18.900 Unit sampai Agustus 2026, Ini Penyebabnya

Penulis: Wahyu Hidayat  •  Selasa, 22 September 2026 | 17:18:01 WIB
Penjualan sepeda motor listrik di Indonesia tercatat sekitar 18.900 unit hingga Agustus 2026.

JAWA TENGAH — Akumulasi penjualan sepeda motor listrik di Indonesia baru menyentuh sekitar 280 ribu unit, sementara pasar motor bensin tetap 5-6 juta unit per tahun. Hingga Agustus 2026, penjualan motor listrik hanya sekitar 18.900 unit, jauh di bawah capaian 2024 yang 77 ribu unit. Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) menyebut ketidakpastian subsidi Rp 3 juta per unit sebagai penghambat utama.

Ketua AISMOLI Budi Setiyadi membeberkan kondisi tersebut dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Senin (21/9/2026). Menurutnya, pangsa pasar motor listrik masih sangat kecil dibandingkan motor berbahan bakar minyak yang setiap tahun menembus 5-6 juta unit.

"Jadi kalau secara market share kami masih kecil sekali dibandingkan dengan motor yang ICE," kata Budi dalam forum tersebut.

Penjualan Sempat Naik, Kini Kembali Melemah

Data AISMOLI menunjukkan pasar motor listrik sempat tumbuh sebelum terjun bebas. Pada 2023, penjualan baru sekitar 15 ribu unit.

Angka itu melonjak menjadi sekitar 77 ribu unit pada 2024. Setahun berselang, ketika subsidi pembelian tidak tersedia, industri masih bisa mencatat sekitar 70 ribu unit.

Memasuki 2026, performanya kembali merosot tajam. Sepanjang Januari hingga Agustus, penjualan motor listrik hanya mencapai sekitar 18.900 unit.

Subsidi Rp 3 Juta Belum Juga Terealisasi

Pemerintah sempat menyampaikan rencana pemberian subsidi motor listrik pada 2026. Besaran yang terakhir disampaikan berada di kisaran Rp 3 juta per unit.

Namun hingga September, realisasi tersebut belum diterima industri. Kondisi ini membuat konsumen dan pelaku usaha sama-sama menunggu.

"Di awal tahun 2026 ini pemerintah sudah menyampaikan bahwa ada rencana subsidi," ujar Budi.

"Namun sampai dengan bulan September ini juga belum ada kejelasannya. Jadi sangat juga menghambat menyangkut masalah penjualan sepeda motor listrik yang ada," katanya.

Charging dan Bengkel Jadi Kekhawatiran Konsumen

Persoalan tidak berhenti pada insentif pembelian. Infrastruktur pengisian daya masih menjadi kendala yang perlu dibenahi untuk memperluas penggunaan kendaraan listrik roda dua.

"Kemudian berikutnya selain bottleneck menyangkut masalah subsidi adalah charging," kata Budi.

Kekhawatiran terhadap layanan purnajual juga masih menjadi pekerjaan rumah. Calon pengguna kerap mempertanyakan ketersediaan bengkel jika sepeda motor listrik mengalami kerusakan.

"Banyak masyarakat yang masih menanyakan kalau kemudian menggunakan sepeda motor listrik, kalau rusak nanti akan perbaikan di mana," ujarnya.

Bank Himbara Siap, Implementasi Masih Seret

Di sisi pembiayaan, industri melihat masih ada jarak antara kesiapan lembaga keuangan dan pelaksanaan di lapangan. Sejumlah bank Himbara telah menyatakan kesediaan mendukung pembiayaan kendaraan listrik.

Dukungan itu belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan industri. Menurut Budi, hambatan justru muncul saat implementasi.

"Kalau dirapatkan dengan pihak pemerintah, beberapa industri atau kemudian bank Himbara menyangkut masalah financing, kalau diajak untuk mendukung sepeda motor listrik dalam rangka pendanaan, siap. Namun dalam implementasi sampai dengan sekarang kita juga masih mengalami hambatan," tuturnya.

Ekosistem Harus Jalan Bersamaan

Pengembangan pasar motor listrik dinilai tidak hanya bergantung pada ada atau tidaknya subsidi. Kepastian kebijakan, infrastruktur pengisian daya, jaringan layanan purnajual, hingga akses pembiayaan menjadi bagian dari ekosistem yang perlu berjalan bersamaan.

Tanpa itu, target penetrasi motor listrik di pasar roda dua nasional sulit mengejar ketertinggalan dari motor bensin.

Reporter: Wahyu Hidayat
Sumber: wartaekonomi.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top