JAWA TENGAH — Yang membuat harga ini terasa "masuk akal" bagi sebagian orang adalah materialnya. Bagian interior stroller menggunakan kulit dan suede yang identik dengan yang dipakai di kabin mobil Lamborghini. Jahitan warna kuning terang khas merek ini menghiasi seluruh bagian, memberikan kesan sporty yang tidak akan ditemukan di stroller merek lain.
Detailnya tidak berhenti di situ. Desain bodi terinspirasi dari garis-garis kap mesin mobil Lamborghini, dan pedal remnya dibuat meniru pedal rem di mobil-mobil super tersebut. Setiap unit yang terjual juga dilengkapi plakat bernomor, menegaskan statusnya sebagai barang koleksi.
Untuk urusan keselamatan bayi, Silver Cross tidak setengah-setengah. Stroller ini dilengkapi carrycot dari bahan polikarbonat dengan ventilasi udara yang baik. Roda depannya didesain untuk melewati berbagai jenis permukaan jalan, ditopang suspensi penuh dengan per yang sengaja diekspos dan dicat kuning terang—detail yang langsung terlihat sebagai ciri khas Lamborghini.
Perlengkapan penunjangnya juga lengkap: dua penutup hujan, kanopi untuk melindungi dari sinar matahari, tempat gelas, dan jaring anti nyamuk. Semua fitur ini menjawab kebutuhan praktis orang tua, meskipun harga jualnya jelas bukan untuk pasar massal.
Pertanyaan yang langsung muncul: kenapa merek yang identik dengan kecepatan dan mesin besar ini membuat stroller? Alex George, pakar otomotif di Consumer Reports, menyebut strategi ini murni soal bisnis.
"Branding seperti ini bisa menghasilkan banyak uang bagi produsen mobil," kata dia. Ia menambahkan logo banteng Lamborghini ampuh membuat orang langsung berpikir soal teknologi canggih, kecepatan, eksklusivitas, dan sejarah panjang mobil-mobil keren—padahal itu hanya stroller.
Sebelum tergoda, ada beberapa catatan penting. Pertama, harga Rp 88 juta hanya untuk stroller—belum termasuk biaya impor dan pajak jika dibawa ke Indonesia, yang bisa membuat harganya membengkak hingga di atas Rp 100 juta. Kedua, ketersediaan hanya 500 unit di seluruh dunia, jadi peluang mendapatkannya di pasar lokal sangat tipis.
Ketiga, meskipun materialnya premium, stroller tetaplah barang yang akan terkena kotoran, hujan, dan pemakaian kasar sehari-hari. Kulit dan suede yang indah itu bisa cepat rusak jika tidak dirawat ekstra hati-hati. Untuk fungsi yang sama, ada banyak stroller premium lain di harga seperlimanya dengan fitur yang tidak kalah lengkap.
Reef Al Giallo jelas bukan untuk semua orang tua. Produk ini adalah statement piece untuk mereka yang menganggap stroller sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekadar alat transportasi bayi. Jika Anda mencari fungsionalitas murni dengan harga masuk akal, ada opsi jauh lebih rasional di pasaran. Tetapi jika Anda kolektor Lamborghini yang ingin memperkenalkan si kecil pada DNA merek sejak dini, unit bernomor ini adalah satu-satunya cara—dan dengan hanya 500 unit di dunia, statusnya sebagai barang langka tidak perlu diragukan.