SLAWI — Proses evakuasi jenazah M Fahri Maulana (16) dari kawah Gunung Slamet berlangsung dramatis dengan medan licin dan jarak pandang terbatas. Korban yang merupakan warga Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, harus diangkat dari titik jatuh di kedalaman 15 hingga 20 meter di kawasan Puncak Salam.
Tim gabungan yang berada di lokasi mulai melakukan pengangkatan korban sekitar pukul 17.00 WIB. Butuh waktu hingga dua jam bagi para relawan untuk mengevakuasi jenazah dari dasar kawah ke permukaan, sebelum akhirnya korban berhasil diangkat sekitar pukul 19.00 WIB.
Setelah berhasil dikeluarkan dari kawah, perjalanan panjang masih menanti tim penyelamat. Proses penurunan jenazah dari Puncak Salam menuju Basecamp Permadi Guci dilakukan pada malam hari dengan kondisi cuaca dingin ekstrem.
Jalur evakuasi yang didominasi bebatuan, pasir, dan kerikil menjadi tantangan tersendiri. Kondisi medan yang licin memperlambat laju tim gabungan yang harus berjalan hati-hati di tengah keterbatasan pencahayaan.
Korban akhirnya tiba di Basecamp Permadi Guci sekitar pukul 02.00 WIB, setelah menempuh perjalanan panjang selama berjam-jam dari lokasi kejadian. Jenazah kemudian langsung diserahkan kepada pihak medis untuk dibawa ke rumah duka di Kabupaten Brebes.
Ketua Forum Komunikasi Relawan Penanggulangan Bencana (FKRPB) Kabupaten Tegal, Anton Priyadi, membenarkan bahwa korban melakukan pendakian bersama tiga orang temannya pada Senin malam (17/8/2026). Rombongan berjumlah empat orang itu masuk melalui jalur Sawangan, Desa Sigedong, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal.
"Korban dinyatakan meninggal dan proses evakuasi korban dilakukan di jalur via Permadi Guci. Evakuasi korban sampai di Basecamp Permadi Guci sekitar pukul 02.00 pagi. Korban langsung dibawa oleh pihak medis dan dibawa ke rumah duka," kata Anton.
Pendakian dengan sistem tektok—naik dan turun gunung di hari yang sama—tanpa pendampingan pemandu resmi menjadi sorotan terkait keselamatan pendaki di jalur Gunung Slamet. Insiden ini menambah catatan kecelakaan pendakian di gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.
Pihak berwenang mengimbau para pendaki untuk selalu mematuhi aturan pendakian, menggunakan jalur resmi, dan mempertimbangkan kondisi fisik serta cuaca sebelum memutuskan melakukan pendakian, khususnya di kawasan kawah yang rawan longsor dan licin.