JAWA TENGAH — Perjanjian tiga pihak ini diumumkan di tengah eskalasi perang AS-Iran yang telah memicu serangan di sejumlah titik kawasan, termasuk oleh pemberontak Houthi yang didukung Iran. Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan kesepakatan itu dirancang untuk memperkuat pencegahan kolektif, di mana serangan terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Klausul utama dalam Aliansi Makkah menegaskan bahwa agresi terhadap salah satu negara penandatangan akan diperlakukan sebagai agresi terhadap semua. Mekanisme ini sengaja disusun untuk meniru Pasal 5 NATO, yang selama ini menjadi fondasi pertahanan bersama negara-negara Barat.
Meski demikian, tidak ada rincian lebih lanjut mengenai bentuk respons militer yang akan diambil jika klausul tersebut diaktifkan. Para analis menilai pakta ini lebih bersifat sinyal politik dibandingkan doktrin perang yang operasional, mengingat ketiga negara memiliki kepentingan strategis yang berbeda terhadap Iran.
Dalam unggahannya di platform Truth Social, Senin (17/8/2026), Trump menulis bahwa ia sangat senang melihat ketiga negara akhirnya menandatangani perjanjian tersebut. Ia menilai langkah ini menunjukkan bagaimana Timur Tengah bersatu dan mampu mempertahankan diri dengan cara yang lebih bermakna.
"Ini menunjukkan bagaimana Timur Tengah bersatu, dan bagaimana negara-negara pada akhirnya akan mampu mempertahankan diri dengan cara yang lebih bermakna," tulis Trump, seperti dikutip AFP.
Di tengah euforia pembentukan aliansi, Mesir justru belum memberikan kepastian untuk bergabung. Kairo disebut masih melakukan kajian mendalam terhadap implikasi politik dan militer dari pakta tersebut, terutama terkait hubungannya dengan kekuatan-kekuatan besar di kawasan.
Keputusan Mesir untuk menahan diri menjadi catatan penting, karena negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia Arab itu bisa mengubah keseimbangan kekuatan jika akhirnya memutuskan untuk bergabung.
Pembentukan Aliansi Makkah tidak bisa dilepaskan dari situasi keamanan regional yang memburuk. Perang AS-Iran yang masih berlangsung telah memperluas zona konflik ke beberapa negara, sementara serangan Houthi yang didukung Teheran terus mengganggu stabilitas keamanan di kawasan.
Pakistan, yang secara geografis berada di luar Timur Tengah, memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas di sisi barat perbatasannya. Sementara itu, Turki dan Arab Saudi selama ini kerap berada di posisi berseberangan dalam sejumlah isu regional, menjadikan pakta ini sebagai ujian bagi kemampuan mereka untuk menyatukan prioritas.