BATANG — Seekor macan kumbang jantan berusia sekitar 10 tahun kini menjalani observasi intensif di kantor BKSDA Jawa Tengah setelah dievakuasi dari Dukuh Ngasinan, Desa Gunungsari, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Rabu (12/8/2026). Satwa berkaki luka itu sebelumnya terlihat berkeliaran di sekitar rumah warga sejak pukul 05.30 WIB dan sempat menerkam ayam serta marmut milik warga.
Kepala BKSDA Jateng, Dyah Sulistyari, mengatakan peristiwa di Batang ini menjadi satu dari tiga laporan penampakan macan yang masuk ke instansinya sepanjang 2026. Namun, dirinya belum merinci lokasi dua laporan lainnya.
Kondisi satwa yang dievakuasi itu memprihatinkan. Bobotnya hanya sekitar 25 kilogram dengan postur tubuh kurus. Selain itu, ditemukan luka basah di kaki kanan depan yang sudah tidak baru.
“Sekarang masih dilakukan observasi kesehatan. Karena kondisinya ada luka di kaki kanan depan, luka basah, tetapi bukan luka baru. Jadi perlu penanganan intensif 24 jam,” jelas Dyah kepada Indoraya.News, Jumat (14/8/2026).
Dyah menambahkan, satwa tersebut diperkirakan berasal dari kawasan hutan Gunung Prau. Meski begitu, pihaknya belum bisa memastikan jumlah populasi macan kumbang di habitat tersebut karena membutuhkan survei lebih dalam.
Sepanjang tahun ini, BKSDA Jateng tidak hanya menerima aduan soal macan. Gangguan monyet ekor panjang yang mendekati permukiman juga dilaporkan warga, meski sebagian besar sudah ditangani.
“Jadi tidak hanya macan, ada monyet ekor panjang juga. Tetapi beberapa [aduan] sudah penanganan,” kata Dyah.
Menurut Dyah, keberadaan macan tutul maupun macan kumbang di kawasan hutan sebenarnya menandakan habitat tersebut masih mampu mendukung kehidupan satwa liar. Namun, musim kemarau mengubah ketersediaan pakan alami sehingga satwa terdorong bergerak lebih jauh.
“Tetapi karena kondisi sekarang musim kemarau, memungkinkan satwa cari pakan lebih jauh sampai turun permukiman,” jelasnya.
Dyah mengungkapkan, warga Kecamatan Bawang sebenarnya kerap melaporkan penampakan macan kumbang saat beraktivitas di kebun atau ladang. Namun, peristiwa satwa tersebut masuk hingga ke tengah permukiman baru pertama kali terjadi.
“Masuk kampung, baru pertama. Tapi orang cocok tanam lihat, banyak laporannya,” tuturnya.
BKSDA Jateng mengimbau warga yang tinggal di dekat kawasan hutan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar rumah pada pagi dan malam hari. Masyarakat diminta segera melapor jika menemukan jejak atau penampakan satwa liar agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.