SEMARANG — Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mencatat lonjakan kasus penyakit musiman selama fenomena bediding, di mana suhu malam hari turun drastis dan kelembaban udara merosot tajam. Berdasarkan data evaluasi terbaru yang dirilis hingga Juni 2026, empat penyakit utama mendominasi keluhan masyarakat di wilayah tersebut.
Fenomena tahunan yang dikenal masyarakat Jawa sebagai bediding ini menyebabkan perubahan suhu ekstrem antara siang dan malam. Udara dingin yang kering berpadu dengan angin kencang membawa debu, membuat tubuh rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menempati urutan pertama sebagai penyakit yang paling banyak dikeluhkan masyarakat selama masa peralihan ke fenomena bediding. Grafik data Dinkes Jateng menunjukkan ISPA mendominasi angka kunjungan pasien di fasilitas kesehatan.
Udara dingin yang kering membuat lapisan lendir di saluran pernapasan mengering, sehingga bakteri dan virus mudah menempel serta memicu infeksi. Sementara itu, virus influenza juga mengalami masa penyebaran lebih cepat karena kelembaban udara rendah.
Penurunan suhu malam hari kerap menurunkan daya tahan tubuh secara mendadak, terutama jika tubuh kekurangan istirahat. Gejala seperti bersin-bersin, demam, sakit kepala, hingga meriang menjadi mudah menyerang warga yang kurang waspada.
Bagi warga yang memiliki riwayat asma atau alergi, fenomena bediding menjadi periode paling menantang karena risiko kekambuhan meningkat signifikan. Paparan suhu dingin ekstrem pada malam dan subuh hari dapat merangsang penyempitan saluran napas secara spontan.
Udara kering juga kerap memicu bersin tiada henti atau gatal-gatal di kulit bagi penderita alergi dingin. Dinkes menyarankan warga mengenakan pakaian tebal, celana panjang, dan kaus kaki saat tidur, serta menyiapkan obat inhaler atau antihistamin di dekat tempat tidur sebagai antisipasi.
Dampak fenomena bediding tidak hanya menyerang organ dalam, tetapi juga terlihat pada kesehatan kulit. Kelembaban udara yang merosot tajam menyerap kadar air alami pada kulit, menyebabkan kulit bersisik, bibir pecah-pecah, hingga dermatitis yang dipicu kulit terlalu kering dan gatal.
Dinkes mengimbau warga rajin mengaplikasikan pelembab kulit atau petroleum jelly sesaat setelah mandi dan sebelum tidur malam. Hindari mandi menggunakan air terlalu panas karena justru akan meluruhkan lapisan minyak alami kulit dan membuatnya semakin kering.
Pemerintah provinsi melalui Dinkes mengimbau masyarakat menjaga daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan bergizi seimbang dan Vitamin C. Tidur berkualitas minimal 7-8 jam sehari serta menghindari begadang di luar ruangan juga menjadi kunci utama mencegah penyakit musiman.
Penggunaan masker medis atau kain saat berkendara dan beraktivitas di luar ruangan disarankan untuk menghalau debu kering. Memperbanyak konsumsi air putih hangat juga membantu menjaga tenggorokan tetap lembab dan mengencerkan lendir.