JAWA TENGAH — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin secara terbuka meminta Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan untuk mendorong hilirisasi industri kesehatan. Permintaan itu disampaikan dalam Forum Tingkat Tinggi bertajuk "Building Regional and Global Health Resilience in ASEAN: Vaccine Manufacturing and Pandemic Preparedness and Response" di Jakarta, Rabu (24/6). Menurut Budi, selama ini belanja kesehatan Indonesia yang mencapai 16 persen dari APBN pada tahun lalu belum sepenuhnya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi domestik karena sebagian besar produk masih diimpor.
Belanja Kesehatan Rp 16 Persen Tak Berdampak ke PDB
Budi memaparkan ironi dalam sistem belanja kesehatan nasional. Meski anggaran kesehatan secara historis selalu di atas 10 persen per tahun, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih minim. "Semua belanja ini belum tertranslasikan jadi pertumbuhan ekonomi di sektor kesehatan, karena sebagian besar masih impor," katanya. Imbasnya, negara pengekspor-lah yang menikmati PDB dari kebutuhan medis Indonesia.
Contoh Konkret: Parasetamol dari Bensin hingga Plasma Darah
Budi memberikan dua contoh nyata ketergantungan impor. Pertama, parasetamol yang bahan bakunya berasal dari bensin. "Bensin sudah diproduksi Indonesia, akan tetapi belum ada hilirisasi yang memungkinkan bensin menjadi cumene, kemudian cumene menjadi phenol, hingga akhirnya menjadi parasetamol," jelasnya. Kedua, produk turunan darah seperti plasma, albumin, immunoglobulin, Factor VIII, dan Factor IX yang masih diimpor, padahal Indonesia memiliki stok darah besar dari jumlah penduduk yang mencapai 280 juta jiwa.
Menurut Budi, pabrik plasma pertama di Indonesia sudah dibangun atas bantuan Luhut dan tinggal menunggu izin operasional. "Mudah-mudahan 2027 bisa produksi 600 ribu liter per hari, kita nggak usah impor lagi," ujarnya. Jika hilirisasi berhasil, ia meyakini target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto bisa tercapai.
Berbagi Teknologi Kesehatan ke Negara Tetangga
Dalam forum yang sama, Budi menekankan pentingnya membangun ketahanan kesehatan regional. Indonesia, Malaysia, dan Thailand sebagai negara berpenduduk besar di ASEAN harus memiliki ekosistem kesehatan yang kuat agar mampu menyelamatkan warganya saat lockdown terjadi lagi. "Jadi teknologi ini nggak harus dimonopoli, terutama di bidang kesehatan, justru harus dibagi. Karena mereka berhak untuk hidup," tegas Budi. Menurutnya, negara-negara besar ini nantinya bisa membantu negara kecil lainnya melalui sistem ketahanan kesehatan yang mandiri.
Langkah Nyata Menuju Kemandirian Vaksin dan Obat
Forum tingkat tinggi ini menjadi salah satu langkah konkret pemerintah untuk memastikan Indonesia tidak kembali bergantung pada pasokan luar negeri saat krisis kesehatan global. Dengan mendorong hilirisasi dan kerja sama regional, pemerintah berharap ekosistem vaksin, obat, dan alat diagnostik nasional mampu bertahan dan berkembang secara mandiri. Target produksi plasma 600 ribu liter per hari pada 2027 menjadi salah satu indikator awal keberhasilan program ini.