JAWA TENGAH — Laporan keuangan terbaru menunjukkan pendapatan Pelindo juga tumbuh 11 persen secara tahunan menjadi Rp15,21 triliun pada periode yang sama. Angka ini diraih di tengah upaya perusahaan merampingkan struktur dan mengintegrasikan bisnis kepelabuhanan yang sebelumnya terfragmentasi.
Efek Hybrid Model dan Efisiensi Operasional
Dony Oskaria menegaskan bahwa penguatan tata kelola menjadi fondasi utama agar BUMN logistik ini makin kompetitif. “Penguatan tata kelola dan model bisnis menjadi fondasi penting agar Pelindo semakin kompetitif dan mampu mendukung konektivitas logistik nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (18/6).
Salah satu langkah strategis yang dibahas adalah pengembangan model korporasi hibrida, yang menggabungkan pendekatan regional dan lini bisnis. Model ini dirancang untuk menyeimbangkan kebutuhan pasar lokal dengan layanan lintas wilayah yang terintegrasi.
Dalam pertemuan dengan Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar pada 17 Juni 2026, Dony mendorong agar struktur baru ini mampu mengoptimalkan pemanfaatan aset dan meningkatkan kualitas layanan. Harapannya, pengelolaan pelabuhan bisa lebih adaptif terhadap kebutuhan pelanggan dan dinamika industri logistik.
Dampak ke Rantai Pasok Nasional
Dengan jaringan pelabuhan yang tersebar di seluruh Indonesia, perbaikan kinerja Pelindo berdampak langsung pada kelancaran arus barang. Efisiensi di pelabuhan berarti biaya logistik nasional bisa ditekan, yang pada akhirnya memengaruhi harga barang di pasar.
Pemerintah selama ini menargetkan penurunan biaya logistik dari kisaran 23 persen terhadap PDB menjadi di bawah 20 persen. Pelindo, sebagai operator pelabuhan terbesar di Tanah Air, menjadi kunci dalam mencapai target tersebut.
Langkah Lanjutan dan Target
Ke depan, Danantara dan BP BUMN akan terus mendorong Pelindo memperkuat koordinasi operasional antarwilayah. Integrasi bisnis yang lebih rapi diharapkan menciptakan ekosistem logistik yang lebih efisien dan kompetitif.
Lonjakan laba 94 persen ini menjadi sinyal awal bahwa transformasi yang dijalankan sejak holdingisasi pelabuhan mulai membuahkan hasil. Namun, tantangan masih ada, terutama dalam menyelaraskan standar layanan di ratusan pelabuhan yang tersebar dari Aceh hingga Papua.