Pencarian

Boyolali Heritage Society Bahas Korelasi Candi dan Nisan Kuno, Jaga Sejarah Budaya Agar Tak Terputus

Minggu, 07 Juni 2026 • 11:50:31 WIB
Boyolali Heritage Society Bahas Korelasi Candi dan Nisan Kuno, Jaga Sejarah Budaya Agar Tak Terputus
Boyolali Heritage Society menggelar diskusi korelasi antara candi dan nisan kuno sebagai bagian sejarah budaya.

BOYOLALI — Sejarah budaya di Boyolali tak melulu soal keraton atau kerajaan besar. Boyolali Heritage Society (BHS) mengangkat benang merah antara candi dan nisan kuno yang tersebar di sejumlah titik di kabupaten ini. Diskusi yang digelar komunitas itu menyoroti bagaimana dua peninggalan tersebut saling berkaitan dalam satu lintasan sejarah yang panjang.

Candi dan Nisan: Dua Sisi Mata Uang Sejarah Boyolali

BHS melihat candi dan nisan kuno bukan sebagai entitas yang terpisah. Keduanya adalah bukti fisik dari proses akulturasi dan perkembangan kepercayaan di Boyolali. Diskusi ini menjadi upaya untuk mengurai hubungan tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.

“Pembahasan ini penting karena banyak generasi muda yang tidak lagi paham bahwa di Boyolali ada jejak peradaban Hindu-Buddha yang kemudian berkelindan dengan masa Islam,” ujar perwakilan BHS dalam diskusi tersebut. Nisan kuno yang ditemukan di beberapa desa, menurut mereka, memiliki ornamen yang mirip dengan relief candi di sekitarnya.

Edukasi Sejarah untuk Generasi Muda Boyolali

Tujuan utama dari diskusi ini adalah edukasi. BHS ingin merangkai narasi sejarah Boyolali yang utuh dan tidak terpotong-potong. Selama ini, pengetahuan tentang candi dan nisan kuno lebih banyak menjadi milik akademisi atau kolektor benda purbakala.

Komunitas ini ingin menjembatani kesenjangan itu. Mereka mendorong agar cerita tentang candi dan nisan kuno bisa diakses oleh pelajar dan masyarakat umum. “Kalau sejarah terputus, anak-anak Boyolali tidak akan tahu dari mana mereka berasal,” tambahnya.

Mengapa Korelasi Candi dan Nisan Penting Dibahas?

Di Boyolali, beberapa situs candi berada tidak jauh dari makam kuno dengan nisan beraksara Arab pegon atau Jawa kuno. BHS menilai ini adalah bukti adanya kontinuitas budaya, bukan pemutusan total saat agama baru masuk. Justru, terjadi dialog budaya yang meninggalkan jejak fisik.

Diskusi ini juga menyentuh soal pelestarian. Banyak nisan kuno yang tidak terawat dan candi yang mulai rusak karena faktor alam dan ulah manusia. BHS berharap diskusi ini bisa mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius dalam inventarisasi dan perlindungan cagar budaya.

Langkah Nyata BHS ke Depan

Ke depan, BHS berencana membuat peta sejarah budaya Boyolali yang menghubungkan titik-titik candi dan makam kuno. Mereka juga akan menggelar tur edukasi bagi pelajar dan komunitas pecinta sejarah. Semua ini dilakukan agar sejarah Boyolali tidak hanya menjadi cerita lisan, tetapi terdokumentasi dengan baik.

Diskusi ini adalah titik awal. BHS mengajak semua pihak untuk tidak melihat peninggalan sejarah sebagai benda mati, melainkan sebagai jembatan untuk memahami identitas Boyolali.

Bagikan
Sumber: radarsolo.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks