BOYOLALI — Kekhawatiran para ibu di Boyolali soal biaya MPASI yang mahal dan proses memasak yang rumit akhirnya terjawab sudah. Dinas Kesehatan setempat menegaskan bahwa kunci utama mengatasi balita yang mogok makan bukanlah pada harga bahan, melainkan pada konsistensi penerapan jadwal dan porsi makan yang tepat. Langkah ini diyakini efektif membongkar mitos yang selama ini menghantui orang tua muda.
Bukan Soal Harga, Tapi Soal Aturan Makan
Selama ini, banyak ibu merasa tertekan dengan anggapan bahwa menu MPASI harus mahal dan penuh variasi agar anak mau makan. Dinkes Boyolali membantah hal tersebut. Menurut mereka, yang lebih penting adalah penerapan feeding rules—aturan main saat makan yang meliputi waktu, tempat, durasi, dan porsi. Jika balita sudah terbiasa dengan aturan ini, GTM bisa diantisipasi tanpa perlu stres memikirkan belanja bulanan.
Praktis dan Ekonomis, Ini yang Disarankan
Alih-alih menyajikan menu rumit setiap hari, Dinkes Boyolali mendorong para ibu untuk fokus pada tekstur dan jadwal. Bahan pangan lokal yang murah dan mudah didapat, seperti tahu, tempe, telur, atau sayur dari pekarangan rumah, dinilai cukup untuk memenuhi gizi balita. Yang terpenting, orang tua disiplin memberikan makan pada jam yang sama dan tidak memaksa anak menghabiskan porsi yang terlalu besar.
“Kuncinya bukan di dompet, tapi di konsistensi,” ujar salah satu perwakilan dari Dinkes Boyolali dalam sosialisasi terbaru. Penerapan feeding rules juga melatih anak mengenali rasa lapar dan kenyang sejak dini, sehingga kebiasaan makan yang baik bisa terbentuk tanpa tekanan.
Mengapa Ibu Perlu Tahu Ini?
Kecemasan berlebih justru sering membuat orang tua panik ketika anak menolak suapan. Akibatnya, mereka berganti-ganti menu mahal yang belum tentu efektif. Dengan pendekatan feeding rules, Dinkes Boyolali ingin memutus siklus kecemasan itu. Para ibu diajak untuk lebih percaya diri menggunakan bahan-bahan sederhana, asalkan proses penyajiannya higienis dan jadwalnya teratur.
Langkah ini diharapkan tidak hanya menekan angka stunting di Boyolali, tetapi juga meringankan beban psikologis orang tua. Sebab, ketika anak sudah terbiasa dengan aturan, waktu makan bukan lagi menjadi ajang perang urat syaraf antara ibu dan balita.