KARANGANYAR — Proses pemakaman seorang wanita di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Jungke, Kecamatan Karanganyar, berlangsung di luar kebiasaan pada Selasa pagi. Petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Karanganyar diterjunkan untuk mengoperasikan crane guna menurunkan peti jenazah ke dalam lubang sedalam dua meter.
Almarhumah, seorang warga RT 02/RW 05, diketahui memiliki berat badan mencapai 175 kilogram. Kondisi ini membuat proses penurunan peti secara manual oleh enam orang petugas maupun pelayat tidak memungkinkan karena risiko keselamatan dan keterbatasan kekuatan fisik.
Proses Penurunan dengan Alat Berat
Petugas Damkar Karanganyar tiba di lokasi sekitar pukul 09.00 WIB setelah sebelumnya mendapat koordinasi dari pihak keluarga dan perangkat kelurahan. Satu unit mobil crane dikerahkan untuk menjangkau area pemakaman yang berada di ujung kompleks TPU.
Sling baja dipasang mengelilingi peti jenazah berbahan kayu jati yang diperkuat rangka besi. Operator crane kemudian mengangkat peti secara perlahan dari atas mobil ambulans, memindahkannya ke atas liang lahat, lalu menurunkannya dengan kecepatan rendah hingga menyentuh dasar makam.
Seluruh proses berlangsung sekitar 45 menit. Petugas memastikan posisi peti tepat di tengah lubang sebelum tali pengangkat dilepaskan secara bertahap.
Mengapa Harus Pakai Crane?
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Karanganyar, Agus Supriyanto, mengatakan bahwa opsi manual sempat dipertimbangkan. Namun setelah dilakukan simulasi, risiko cedera petugas dan potensi kerusakan peti dinilai terlalu besar.
"Kami hitung, enam orang dewasa rata-rata hanya mampu mengangkat beban maksimal 80 kilogram per orang secara bersama-sama. Dengan bobot total peti dan jenazah diperkirakan lebih dari 200 kilogram, sangat berisiko," ujar Agus saat dihubungi.
Pihak keluarga almarhumah telah berkoordinasi dengan kelurahan sejak sehari sebelumnya. Mereka meminta bantuan peralatan berat setelah mengetahui standar peti kayu yang digunakan tidak memungkinkan untuk diangkat dengan tenaga manusia.
Respons Warga dan Langkah Selanjutnya
Sejumlah pelayat yang hadir mengaku baru pertama kali menyaksikan proses pemakaman menggunakan crane. Beberapa warga mengabadikan momen tersebut melalui ponsel, namun tetap menjaga kekhidmatan prosesi.
Lurah Jungke, Sutrisno, menyatakan bahwa pihaknya akan mendata warga dengan kondisi obesitas ekstrem di wilayahnya. Data ini akan digunakan untuk menyusun prosedur penanganan jenazah khusus, termasuk koordinasi awal dengan Damkar dan BPBD.
"Kami tidak ingin kejadian serupa membuat keluarga kebingungan di saat berduka. Ke depan, akan ada SOP sederhana yang bisa diakses warga," kata Sutrisno.
Proses pemakaman selesai sekitar pukul 10.30 WIB. Almarhumah dimakamkan di samping makam suaminya yang telah lebih dulu meninggal pada 2023 lalu.