TEGAL — Suasana pendopo Ki Gede Sebayu Balai Kota Tegal berubah menjadi panggung komedi pada Rabu (18/4/2012) lalu. Bukan karena pertunjukan lawak, melainkan lomba maca artikel Basa Tegalan antar kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang digelar dalam rangka peringatan hari jadi Kota Tegal ke-432.
Acara yang berlangsung selama dua hari, 17-18 April 2012 itu, justru diwarnai gelak tawa sejak sambutan dibuka. Sekda Edy Pranowo yang memberi sambutan tanpa catatan, beberapa kali salah ucap dan lupa kosakata Basa Tegalan. Momen itu langsung disambut ledekan para kepala SKPD yang hadir.
Sekda Jadi Korban Ledekan Peserta
"Husss! Aja pada ngguyu disit. Coba engko sampeyan kabeh kaya apa, nyong pan ndeleng anjog bubar," ujar Edy sambil mbegis atau cemberut saat para peserta terus meledeknya. Sekda yang sehari-hari lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia itu mengaku hanya sering berbahasa Tegalan dengan anak keduanya.
Saat jeda jedan atau sesi lomba, para kepala SKPD justru lebih dulu asyik saling ledek. "Ndean mumpung lagi rahat-rahatan," kata salah satu peserta. Suasana cair itu justru membuat perlombaan semakin semarak.
Deretan Salah Ucap yang Mengundang Tawa
Giliran para peserta maju ke depan, kekeliruan demi kekeliruan terjadi. Ada yang membaca tulisan "Ana kabar apa?" menjadi "apa kabar". "Koreng mrabah" dibaca "goreng mrabah". Bahkan ada peserta yang membaca "aku kye turu, aja pitnah" menjadi "aku kye pitnah, aja turu".
Kekeliruan paling kocak terjadi pada kosakata "langganan" yang dibaca "rangda-nan" atau janda-janda. "Pareman" alias pupuran dibaca "parman", seperti nama penjual bubur kacang ijo. "Salugu-lugune" terbaca "sagulu-gulune", dan "randu alas" berubah jadi "rangda alus".
Masih ada lagi, "pangkutangan culak culek" hanya terbaca "kutang ucal-ucul". Kepala SKPD yang berasal dari luar Tegal, termasuk Kepala Rumah Sakit Kardinah, berusaha keras membaca artikel dengan logat Tegalan. Alhasil, semua huruf akhiran "a" dibaca "o".
Peserta Protes Nama Lomba hingga Durasi Waktu
Selain salah ucap, lomba ini juga diwarnai protes peserta. Ada yang mempertanyakan kenapa judulnya lomba, bukan jed jedan. Ada pula yang mengusulkan waktu membaca ditambah dari lima menit menjadi enam menit. Seorang peserta bahkan bertanya soal pengakuan Dr. Maufur yang mengaku tidur tapi masih mendengar orang bicara.
Lurah Randu Gunting yang maju dengan nomor urut 36, justru membaca artikel sesukanya sendiri. Sementara itu, sebelum membaca, beberapa peserta sempat mengomentari pilihan judul artikel rebutan balung garing. Lomba yang sempat diikuti oleh para warga biasa pada hari pertama, kini diikuti oleh para pejabat SKPD yang mayoritas berasal dari luar Tegal.