Pencarian

Petani Lereng Merapi di Klaten Kembangkan Kopi Arabika, BRI Beri Pendampingan Lewat Program Klasterku Hidupku

Minggu, 24 Mei 2026 • 15:49:30 WIB
Petani Lereng Merapi di Klaten Kembangkan Kopi Arabika, BRI Beri Pendampingan Lewat Program Klasterku Hidupku
Petani Lereng Merapi di Klaten mulai budidayakan kopi arabika dengan pendampingan BRI.

KLATEN — Para petani di Kampung Sapu Angin tak lagi hanya mengandalkan tanaman palawija di lahan lereng Merapi. Mereka kini mulai membudidayakan kopi arabika, komoditas yang dinilai punya nilai ekonomi lebih tinggi dan cocok dengan karakter tanah vulkanik di kawasan tersebut.

Inisiatif ini muncul dari kelompok tani setempat yang melihat peluang pasar kopi spesialti. Namun, keterbatasan pengetahuan tentang teknik budidaya dan pascapanen menjadi kendala utama.

Pendampingan dari BRI: Bukan Sekadar Modal

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Cabang Klaten turun tangan memberikan pendampingan teknis. Program ini masuk dalam skema Klasterku Hidupku, yang tidak hanya menyasar aspek pembiayaan, tetapi juga penguatan kapasitas petani.

“Kami tidak hanya memberikan kredit. Tapi juga pendampingan agar usaha petani naik kelas,” ujar perwakilan BRI Cabang Klaten dalam keterangan yang diterima, pekan lalu.

Potensi Kopi Arabika di Lereng Merapi

Lereng Merapi dikenal memiliki elevasi dan iklim mikro yang cocok untuk kopi arabika. Beberapa wilayah di sekitar Klaten dan Sleman sudah lebih dulu sukses mengembangkan kopi dengan cita rasa khas.

Petani di Kampung Sapu Angin saat ini masih dalam tahap awal pengembangan. Mereka fokus pada pembibitan dan penanaman perdana di lahan percontohan seluas beberapa hektare.

Kopi arabika yang ditanam diharapkan bisa dipanen dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Jika berhasil, program ini bisa menjadi model pengembangan agrowisata dan ekonomi desa berbasis komoditas unggulan.

Dampak bagi Ekonomi Warga

Dengan adanya pendampingan dari BRI, petani tidak hanya mendapatkan akses permodalan. Mereka juga dibekali pelatihan tentang pengolahan pascapanen, mulai dari fermentasi hingga pengemasan.

Kelompok tani setempat menargetkan hasil panen pertama bisa langsung dipasarkan ke kafe dan kedai kopi di wilayah Solo Raya. Harga jual kopi arabika specialty di tingkat petani bisa mencapai Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per kilogram, jauh di atas kopi robusta biasa.

Program ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah mendorong diversifikasi tanaman di kawasan penyangga Merapi. Selain menjaga ketahanan pangan, pengembangan kopi juga berpotensi menekan alih fungsi lahan.

Bagikan
Sumber: radarsolo.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks