Pencarian

Kampung di Pesisir Utara Jateng Perlahan Tenggelam, Walhi Sebut Kerusakan Alam dari Hulu hingga Hilir Kian Parah

Kamis, 21 Mei 2026 • 13:06:38 WIB
Kampung di Pesisir Utara Jateng Perlahan Tenggelam, Walhi Sebut Kerusakan Alam dari Hulu hingga Hilir Kian Parah
Kampung pesisir utara Jawa Tengah mengalami penurunan muka tanah akibat kerusakan lingkungan dari hulu hingga hilir.

SEMARANG — Fenomena tenggelamnya pesisir utara Jawa Tengah bukan lagi isu masa depan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah menilai tekanan terhadap lingkungan di provinsi ini sudah mencapai titik kritis, dengan kerusakan yang saling terhubung dari kawasan pegunungan di hulu hingga pesisir pantai di Pantura.

Deputi Walhi Jawa Tengah, Nur Colis, mengatakan kerusakan di wilayah hulu menjadi pemicu utama berbagai persoalan ekologis di daerah bawah. Aktivitas pengambilan air tanah berlebihan, pembukaan lahan, dan penggundulan hutan disebut menurunkan kemampuan tanah menyerap air.

Dampaknya: Kampung Tenggelam dan Rumah yang Terus Ditinggikan

Akibatnya, limpasan air dan sedimentasi semakin tinggi saat hujan turun, memicu kerusakan di wilayah tengah dan hilir. Dampak paling serius kini dirasakan di kawasan pesisir utara, seperti Demak, Pekalongan, dan Semarang.

Banjir rob, abrasi, dan erosi pantai terjadi hampir setiap tahun dengan intensitas yang terus meningkat. Di beberapa titik, air laut bahkan sudah masuk secara permanen, membuat sejumlah kampung perlahan tenggelam.

“Kalau dilihat sekarang banyak rumah pintunya tinggal setengah karena lantainya terus dinaikkan. Kalau tidak begitu, rumah mereka akan terus kemasukan air,” ujar Colis saat diwawancarai di Semarang, Kamis (21/5/2026).

Bukan Hanya Laut Naik, Tanah Juga Turun

Walhi menjelaskan, kerusakan ini tidak semata-mata disebabkan oleh kenaikan permukaan air laut. Penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah berlebihan di kawasan perkotaan dan industri justru memperparah situasi.

Kondisi itu diperburuk dengan rusaknya kawasan mangrove yang selama ini berfungsi sebagai benteng alami penahan abrasi dan gelombang laut. Akibatnya, sebagian warga pesisir terpaksa meninggikan rumah mereka secara bertahap agar tidak terus terendam rob.

Tidak sedikit warga yang akhirnya memilih pindah karena wilayah tempat tinggal mereka sudah tidak lagi layak huni. Beberapa desa bahkan mulai direlokasi akibat genangan rob yang terjadi sepanjang tahun.

Aktivitas Tambang Galian C Mempercepat Degradasi

Selain faktor alih fungsi lahan, maraknya aktivitas pertambangan galian C di sejumlah daerah disebut memperparah kerusakan. Pengerukan tanah dan batu dinilai mempercepat degradasi kawasan resapan air serta memicu erosi.

“Kerusakan ini saling terhubung. Dari pegunungan sampai pesisir semuanya terdampak,” tegas Colis.

Walhi Jateng menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah penanganan yang lebih serius dan tidak hanya bersifat jangka pendek. Selain pembangunan tanggul laut dan infrastruktur perlindungan pantai, pemulihan kawasan hulu juga dianggap sangat penting untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan secara menyeluruh.

Apa yang Mendesak Dilakukan?

Pembangunan tetrapod, rehabilitasi mangrove, penghentian eksploitasi air tanah berlebihan, hingga penataan ulang izin tambang disebut harus menjadi prioritas pemerintah daerah maupun pusat. Walhi juga meminta penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan diperkuat.

Di sisi lain, masyarakat diminta ikut aktif mengawasi kondisi lingkungan di wilayah masing-masing dan berani melaporkan jika terjadi aktivitas yang berpotensi merusak alam. Menurut Walhi, tanpa langkah serius dan terintegrasi, ancaman krisis lingkungan di Jawa Tengah diperkirakan akan semakin besar dalam beberapa tahun mendatang, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir utara.

Bagikan
Sumber: kanal9.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks