Harga aset kripto XRP terkoreksi hingga ke level 1,41 dolar AS setelah gagal menembus titik resistansi psikologis di angka 1,45 dolar AS. Penurunan ini terjadi secara kontradiktif di tengah keberhasilan Ripple menyelesaikan uji coba tokenisasi Treasury Amerika Serikat bersama raksasa perbankan JPMorgan dan Mastercard.
Pasar kripto kembali menunjukkan volatilitas tinggi saat XRP kehilangan momentum penguatannya dalam sesi perdagangan 24 jam terakhir. Padahal, secara fundamental, Ripple baru saja mencatatkan pencapaian signifikan melalui XRP Ledger (XRPL) dengan memfasilitasi penyelesaian transaksi lintas batas untuk aset Treasury AS yang terdigitalisasi.
Koreksi harga ini membawa XRP kembali ke zona konsolidasi antara 1,40 dolar AS hingga 1,41 dolar AS (sekitar Rp 22.560). Para analis pasar kini memantau ketat apakah struktur breakout yang terbentuk beberapa hari lalu mampu bertahan atau justru berbalik menjadi tren penurunan yang lebih dalam.
Kolaborasi Strategis Tokenisasi Treasury dengan JPMorgan
Ripple memperkuat posisinya di infrastruktur keuangan institusional melalui uji coba penebusan (redemption) Treasury AS secara near-real-time. Transaksi ini melibatkan ekosistem keuangan yang kompleks dan prestisius, di antaranya:
- JPMorgan: Melalui platform Kinexys untuk pengiriman likuiditas dolar AS.
- Mastercard: Menggunakan Multi-Token Network sebagai rute transaksi.
- Ondo Finance: Penyedia aset Treasury yang ditokenisasi.
- Mitra Perbankan Singapura: Bertindak sebagai titik akhir penyelesaian di luar jam operasional bank tradisional.
Keberhasilan penyelesaian transaksi dalam waktu kurang dari lima detik ini membuktikan efisiensi XRPL dalam menangani aset dunia nyata (Real World Assets/RWA). Langkah ini juga sejalan dengan rencana DTCC yang akan meluncurkan platform tokenisasi serupa pada akhir tahun ini.
Level Psikologis 1,45 Dolar AS Jadi Penghambat
Secara teknikal, kegagalan XRP untuk bertahan di atas 1,4534 dolar AS memicu aksi jual masif. Data perdagangan menunjukkan volume penjualan sebesar 131,28 juta XRP menghantam pasar pada sesi 6 Mei pukul 13.00 UTC, yang seketika menekan harga menembus level dukungan awal di 1,4460 dolar AS.
Kondisi likuiditas yang mulai menipis di bursa global meningkatkan risiko pergerakan harga yang tajam (sharp moves). Saat ini, rentang harga 1,45 dolar AS hingga 1,47 dolar AS menjadi barikade utama yang harus ditembus oleh kelompok pembeli (bulls) jika ingin mengejar target harga berikutnya di level 1,60 dolar AS.
Indikator MVRV (Market Value to Realized Value) sempat menunjukkan sinyal overheated atau jenuh beli. Pola ini serupa dengan kondisi yang dialami Bitcoin sebelum melakukan reli besar menuju angka 100.000 dolar AS pada akhir tahun lalu, memberikan harapan tipis bahwa koreksi saat ini hanyalah fase konsolidasi sebelum lonjakan berikutnya.
Sentimen Global dan Sinyal Positif dari Bitcoin
Di sisi lain, pergerakan XRP juga tidak lepas dari bayang-bayang Bitcoin yang mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan baru. Bitcoin terpantau ditutup di atas pita atas Bollinger Band untuk kedua kalinya sejak pertengahan Januari, sebuah sinyal momentum bullish yang kuat setelah periode volatilitas rendah.
John Bollinger, pencipta indikator Bollinger Bands, menyatakan bahwa model investasi miliknya telah memberikan sinyal positif terhadap Bitcoin. Jika pemimpin pasar kripto tersebut berhasil mempertahankan tren kenaikannya, hal ini diprediksi akan memberikan sentimen positif tambahan bagi altcoin seperti XRP untuk kembali menguji level resistansinya dalam waktu dekat.