JAWA TENGAH — Tallinn Black Nights Film Festival (PÖFF) membuka edisi ke-30 pada Jumat dengan menayangkan 230 film panjang dan 259 film pendek dari 87 negara. Festival di Estonia yang berpenduduk 1,3 juta jiwa itu kini menjadi acara film terbesar di Eropa Utara setelah meraih akreditasi A-list FIAPF pada 2014. Pendiri Tiina Lokk mengaku sempat ragu festival ini bisa bertahan.
Lompatan itu terlihat dari jumlah penonton. Edisi pertama hanya menarik sekitar 6.000 penonton dan sudah dianggap sukses. Tahun lalu, PÖFF mencatat hampir 95.000 penonton.
Pada pertengahan 1990-an, seluruh Estonia hanya punya tiga sampai empat bioskop. Layar-layar itu didominasi blockbuster Hollywood dan film kung-fu kelas B asal China.
Kondisi industri film lokal saat itu jauh dari ideal. Tiina Lokk mengenang ada satu tahun ketika Estonia sama sekali tidak memproduksi film panjang. "Nobody knew what to do with cinema, and there wasn't even money for it in the Ministry of Culture budget," ujarnya.
PÖFF mengubah lanskap itu. Pada 2014, festival ini memperoleh akreditasi A-list dari FIAPF, menempatkannya sederet dengan Cannes, Venice, Berlin, Sundance, Toronto, Karlovy Vary, dan Locarno.
Lokk adalah penggerak utama di balik pertumbuhan PÖFF. Awal tahun ini ia melepas jabatan festival director dan beralih ke arah strategis serta pengembangan. Putrinya, Triin Tramberg, naik menjadi artistic director.
Meski kini jadi tokoh sentral, Lokk sempat skeptis pada ide awalnya sendiri. "I had deep doubts," katanya kepada THR. Ia ingin membuat festival karena latar belakangnya sebagai kritikus, teoritikus, dan sejarawan film.
Estonia saat itu tidak punya tradisi festival film. Uni Soviet hanya punya Moscow Film Festival yang tak rutin digelar, ditambah All-Union Film Festival keliling yang berpindah ibu kota republik tiap tahun.
Lokk hanya pernah menyaksikan satu festival di Tallinn, yakni pada 1982, ketika Estonia menjadi republik terakhir yang menjadi tuan rumah. "I wasn't sure that Estonia was ready to have a regular festival and that it was needed," ujarnya.
Pemerintah saat itu tidak melihat urgensi festival film. Lokk mengingat respons khas para politikus: "We don't need that in Estonia. If you want to go to cinemas, go to Helsinki or go to Paris."
Ia juga sempat kesulitan mencari venue. Hotel-hotel menolak permintaannya satu per satu sampai opsi terakhir akhirnya bersedia menjadi sponsor.
Pendanaan pun minim. Festival mendapat dukungan dari korps diplomatik, sejumlah kecil dari negara, serta bantuan teman dan rekan sekelas Lokk.
Keamanan menjadi tantangan tersendiri. "In the middle of the '90s, there were bombs blowing up cars in the street. The mafia was around. It was a different time," kenangnya.
Edisi-edisi awal PÖFF digelar pada awal Desember. Menurut Lokk, slot itu kosong di kalender festival internasional sehingga memberi ruang bagi PÖFF untuk tampil tanpa bersaing langsung dengan ajang besar lain.
Jaringan internasional Lokk lewat perusahaan distribusinya, FilmaMAX, ikut membuka jalan. Kedutaan-kedutaan asing di Estonia mendorongnya merealisasikan ide festival tersebut.
Dari 24 film di edisi perdana, PÖFF kini menayangkan 489 judul dari 87 negara. Angka itu menegaskan posisi Estonia kecil sebagai salah satu pusat sirkulasi film di Eropa Utara.