SDN Keturen 1 Kota Tegal Semai Karakter BERLIAN Lewat Pembiasaan Harian, dari Doa Pagi hingga Keteladanan Guru

Penulis: Usman Harun  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:46:31 WIB
Siswa SDN Keturen 1 Kota Tegal membiasakan doa pagi sebagai bagian dari penanaman karakter BERLIAN.

TEGAL — Rowi Jayanti memaparkan bahwa pendidikan karakter tidak cukup disampaikan lewat nasihat atau teori di dalam kelas. Nilai-nilai positif, katanya, perlu dipraktikkan langsung sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari peserta didik.

Pembiasaan itu dirancang agar siswa memahami sekaligus menerapkan nilai karakter dalam berbagai situasi. Mulai saat mengikuti pembelajaran, berinteraksi dengan teman, hingga berada di lingkungan masyarakat.

Rangkaian Kegiatan Sehari-hari yang Jadi Sarana Penanaman Nilai

Sejumlah kegiatan sederhana dipakai sebagai sarana menanamkan karakter. Mulai dari pembiasaan berdoa, literasi, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, kejujuran, sampai sikap saling menghormati.

Penerapan pembiasaan harian disesuaikan dengan usia dan karakteristik peserta didik. Dengan pendekatan itu, siswa diharapkan tidak hanya memahami aturan sekolah, tetapi juga punya kesadaran menjalankannya.

Rowi menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang mendukung pembentukan karakter. Pembiasaan positif dimulai sejak siswa datang ke sekolah hingga menyelesaikan seluruh aktivitas pendidikan.

Keteladanan Guru Menentukan Berhasil atau Tidaknya Program

Sikap dan perilaku pendidik dalam kehidupan sehari-hari menjadi contoh nyata bagi siswa. Karena itu, keteladanan guru dan tenaga kependidikan disebut sebagai faktor penting keberhasilan program.

Pendidikan karakter membutuhkan komitmen bersama seluruh warga sekolah. Tanpa itu, nilai-nilai yang ditanamkan sulit tumbuh menjadi kebiasaan yang melekat pada diri peserta didik.

Pembiasaan di Sekolah Perlu Dilanjutkan di Rumah

Keluarga memegang peran penting dalam memperkuat pendidikan karakter anak. Pembiasaan yang berjalan di sekolah perlu dilanjutkan di rumah agar peserta didik memperoleh lingkungan yang konsisten.

Dengan lingkungan yang selaras antara sekolah dan keluarga, perilaku positif yang dibiasakan setiap hari berpeluang besar menjadi karakter yang menetap. Bukan hanya hafalan aturan yang luruh setelah bel pulang berbunyi.

Reporter: Usman Harun
Sumber: jateng.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top