1.000 Porsi Soto Tamanwinangun Dibagikan Gratis di Festival Pasar Banaran Kebumen

Penulis: Usman Harun  •  Rabu, 21 Oktober 2026 | 09:46:32 WIB
Warga menerima porsi soto gratis dalam Festival Soto Tamanwinangun di Pasar Banaran, Kebumen.

KEBUMEN — Karang Taruna Tamanwinangun menyiapkan seribu porsi soto dalam festival sehari tersebut. Hidangan disajikan langsung dari stand pedagang di area Pasar Banaran. Warga yang datang tidak dipungut biaya sepeser pun.

Soto Tamanwinangun punya ciri yang membedakannya dari soto daerah lain. Kuahnya gurih dengan tambahan tumbukan kacang tanah. Kombinasi itu membuat rasanya lebih pekat dibanding soto bening biasa.

Berawal dari Lima Pedagang Era 1960-an

Kuliner ini tidak lahir dari resep tunggal. Sejarahnya bermula dari lima pedagang yang dikenal sebagai Pandawa Lima.

Mereka adalah Mbah Munawar, Mbah Sojali, Mbah Sahudi, Mbah Madchusen, dan Mbah Jamil. Kelima nama itu masih diingat warga sebagai perintis dagangan soto di kawasan Tamanwinangun.

Dari lima warung itulah cita rasa Soto Tamanwinangun menyebar dan bertahan lintas generasi. Kini pedagangnya jauh lebih banyak, tetapi racikan kuah dan kacang tanah tetap dipertahankan.

Festival Jadi Etalase bagi Pedagang Lokal

Ketua Karang Taruna Tamanwinangun Syaipul Anas berharap festival memperkenalkan soto ini ke lebih banyak pengunjung. Menurut dia, ajang tersebut sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pedagang lokal.

Harapan serupa datang dari Anggota DPRD Jawa Tengah Faiz Alauddien Reza Mardhika. Ia menilai Soto Tamanwinangun berpotensi diperkenalkan sampai ke pengunjung internasional.

Peluang itu terbuka karena Kebumen dijadwalkan menjadi tuan rumah agenda konferensi ilmu bumi pada awal 2027. Faiz menyebut momentum tersebut bisa dipakai memperkenalkan kekayaan kuliner daerah kepada tamu dari luar negeri.

Bupati: Dari Semangkuk Soto, Ekonomi Warga Berputar

Bupati Kebumen Lilis Nuryani menekankan dampak ekonomi dari pengenalan kuliner khas daerah. Menurut dia, manfaatnya paling terasa bagi pedagang yang menggantungkan penghasilan dari usaha kuliner.

"Dari semangkuk soto, ada usaha warga yang bergerak, pedagang yang memperoleh penghasilan, dan ekonomi masyarakat yang tumbuh," ujar Lilis.

Festival tidak hanya berisi pembagian soto. Panggung acara juga diisi pertunjukan kesenian Jamjaneng serta pentas siswa SLB Negeri Tamanwinangun dan SMPN 4 Kebumen.

Pelestarian kuliner tradisional lewat festival dinilai menjaga warisan budaya sekaligus menopang pertumbuhan usaha kecil di Kebumen. Bagi pedagang, ajang seperti ini menjadi kesempatan memperkenalkan racikan mereka ke pembeli baru di luar pelanggan harian.

Reporter: Usman Harun
Sumber: kebumen24.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top