JAWA TENGAH — Sarina Wiegman resmi menandatangani perpanjangan kontrak dua tahun sebagai pelatih timnas putri Inggris, mengikatnya hingga berakhirnya Euro 2029. Kesepakatan anyar itu memperpanjang masa baktinya yang semula akan habis usai Piala Dunia musim panas mendatang.
Pelatih berusia 56 tahun itu kini menuntaskan spekulasi soal masa depannya di bangku cadangan Lionesses. Kontrak sebelumnya sedianya berakhir setelah Piala Dunia 2027, tetapi kesepakatan baru memastikan ia tetap memimpin Inggris melewati turnamen di Brasil tersebut.
Wiegman menegaskan komitmennya terhadap skuad yang ia tangani sejak September 2021. Pelatih asal Belanda itu menyebut pekerjaan di timnas putri Inggris sebagai posisi terbaik yang bisa didapatkan seorang pelatih sepak bola.
Dalam pernyataan resminya, Wiegman menyampaikan kebahagiaannya bisa melanjutkan kerja sama dengan para pemain dan staf yang ia nilai berdedikasi tinggi. Ia juga menyoroti dukungan Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) sebagai faktor yang membuatnya betah.
"Saya sangat senang bisa melanjutkan bersama skuad ini dan tidak bisa membayangkan pekerjaan yang lebih baik di sepak bola," kata Wiegman seperti dikutip dari pernyataan resmi FA.
"Bekerja untuk organisasi kelas dunia seperti The FA, dan bersama begitu banyak orang yang berdedikasi untuk tim Inggris yang menang dan perkembangan permainan kami, membuat saya bersemangat setiap hari."
Fokus jangka pendek Wiegman tetap tertuju pada upaya membawa Inggris lolos ke Piala Dunia. Ia menyebut tugas mengamankan tempat di Brasil sebagai prioritas utama sebelum memikirkan target jangka panjang bersama Lionesses.
Sejak menggantikan Phil Neville, Wiegman mengantar Inggris meraih trofi mayor pertama mereka di Euro 2022 lewat kemenangan 2-1 atas Jerman di Wembley. Setahun berselang, Lionesses melaju ke final Piala Dunia 2023 di Australia, meski harus menyerah 0-1 dari Spanyol.
Pencapaian puncak terbaru terjadi di Euro 2025. Kemenangan atas Spanyol di partai final membawa Inggris mempertahankan gelar juara Eropa sekaligus menjadikan mereka tim Inggris pertama, baik putra maupun putri, yang menjuarai turnamen mayor di luar negeri.
Rentetan itu menempatkan Wiegman sebagai pelatih pertama, baik di sektor putra maupun putri, yang mencapai lima final internasional mayor secara beruntun. Sebelum menangani Inggris, ia membawa Belanda juara Euro 2017 dan menjadi runner-up Piala Dunia 2019.
Kemenangan di Euro 2025 juga membuat Wiegman menjadi pelatih kedua setelah Christina Theune dari Jerman yang mampu meraih tiga gelar Kejuaraan Eropa secara beruntun.
Inggris baru saja memastikan langkah ke putaran kedua play-off kualifikasi Piala Dunia setelah menghancurkan Yunani dengan agregat 8-1 pekan lalu. Di babak berikutnya, Lionesses akan menghadapi Ukraina dalam pertandingan dua leg.
Kemenangan atas Ukraina akan mengunci tiket Inggris ke Piala Dunia di Brasil pada musim panas mendatang. Wiegman menegaskan timnya memiliki tugas penting untuk merealisasikan target tersebut.
"Kekhawatiran utama saya saat ini benar-benar Piala Dunia, dan membantu skuad ini mewujudkan potensi mereka di tahun-tahun mendatang," ujar Wiegman.
"Kami punya tugas penting untuk memastikan tempat kami di Brasil, dan semoga kami bisa melakukannya serta memberikan musim panas istimewa lagi untuk negara ini tahun depan."
Chief Executive FA Mark Bullingham menyebut Wiegman sebagai pelatih luar biasa dengan rekresi tak tertandingi di turnamen-turnamen besar. Ia menilai tidak ada sosok yang lebih tepat memimpin Lionesses ke dua turnamen berikutnya.
"Meski kita semua akan mengingat trofi dan momen mendebarkan yang ia berikan, saya tahu ia hanya melihat ke depan," kata Bullingham.
"Tidak ada orang yang lebih baik untuk memimpin Lionesses ke dua turnamen berikutnya. Dampak Sarina terhadap sepak bola Inggris sangat besar, dan ia terus menginspirasi banyak orang di seluruh dunia permainan ini."
Dengan kontrak baru di tangan, Wiegman kini memiliki ruang untuk membangun fondasi jangka panjang. Tantangan terdekat tetap play-off melawan Ukraina, sementara Euro 2029 sudah menanti sebagai tujuan akhir masa baktinya bersama Inggris.