JEPARA — Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara mengungkap hasil uji laboratorium terhadap sampel menu MBG yang dikonsumsi puluhan warga di Kecamatan Karangkebagusan. Sampel diperiksa di laboratorium kesehatan untuk memastikan penyebab keluhan yang dialami 17 orang penerima manfaat.
Sekretaris DKK Jepara, Hesti Prihandari, menyebut sampel yang diuji meliputi nasi, chicken katsu, tumis sayur kol wortel, serta tahu goreng saus mentai. Pemeriksaan menyasar seluruh komponen menu untuk melacak sumber kontaminasi.
Bakteri Staphylococcus aureus dan jamur yeast and mold terdeteksi pada chicken katsu serta tumis sayur kol wortel. Pada nasi dan tumis sayur kol wortel ditemukan bakteri Enterobacteriaceae.
Bakteri Salmonella sp. ditemukan pada tumis sayur kol wortel. "Adanya bakteri Salmonella, kuman penyebab tipes," ujar Hesti.
Hesti menjelaskan, bakteri tersebut dapat menimbulkan gejala sakit perut, mual, hingga diare pada orang yang mengonsumsinya.
Pemeriksaan tidak berhenti pada makanan. Air bersih yang dipakai mencuci mengandung coliform sebanyak 146 dan dinyatakan melebihi baku mutu.
Sementara pada air minum, jumlah koloni terlalu banyak untuk dihitung. Hasil pemeriksaan mencatat total koloni lebih dari 200.
Menurut Hesti, temuan bakteri diduga berkaitan dengan penyimpanan bahan baku yang kurang baik. Kontaminasi silang saat proses packing makanan juga menjadi salah satu penyebab yang disorot.
Dua faktor itu menjadi perhatian karena menyangkut tahapan yang terjadi setelah makanan dimasak, bukan hanya saat pengolahan.
Keluhan kesehatan muncul pada Rabu (16/9/2026). Ahli Gizi SPPG Karangkebagusan, Muhammad Hafizh Nugroho, merinci 17 orang terdampak terdiri dari 14 siswa dan tiga tenaga pendidik.
Mereka mengalami keluhan seperti pusing dan sakit perut. "Yang mengalami gejala ada 17, guru 3, dan siswa 14. Rawat jalan," kata Hafizh.
Kasus tersebar di beberapa sekolah penerima MBG. Di SD Negeri Karangkebagusan terdapat tiga siswa yang mengalami gejala.
Di SD Negeri Kauman, sebanyak 11 siswa dan dua tenaga pendidik juga mengalami keluhan serupa. Satu guru TK Pertiwi Jepara yang sempat mencicipi makanan mengaku pusing.
Menyusul kejadian tersebut, Pemkab Jepara memerintahkan satgas kecamatan bersama dinas terkait melakukan inspeksi mendadak ke SPPG di wilayah Jepara.
Sidak berlangsung mulai 14 hingga 26 September 2026. Pemeriksaan menyasar kondisi bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga kebersihan di masing-masing SPPG.
Hasil sidak dan temuan laboratorium menjadi dasar penanganan lanjutan terhadap dapur SPPG yang memasok menu terdampak.