TEGAL — Kekeringan melanda seluruh desa di Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, pada musim kemarau tahun ini. Camat Suradadi Aji Wiratno menyatakan, dari 11 desa yang ada, tidak ada satu pun yang terbebas dari krisis air bersih, namun tingkat keparahannya bervariasi.
Desa Kertasari disebut sebagai wilayah dengan kondisi paling kritis. Sumber air warga yang selama ini menjadi andalan sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Di Kertasari setiap hari minimal harus ada lima tangki air bersih untuk mencukupi kebutuhan warga. Karena sumur-sumur sudah mengering," ungkap Aji saat ditemui di kantornya, Kamis (3/9/2026).
Distribusi air bersih menggunakan tangki tersebut menjadi penopang utama kehidupan warga. Sungai yang biasanya menjadi alternatif sumber air pun tidak lagi dapat diandalkan karena debitnya menurun drastis. Selain Kertasari, Desa Harjasari juga mengalami dampak kekeringan yang serius.
Persoalan di Harjasari tidak hanya menyangkut kebutuhan rumah tangga, tetapi mulai mengganggu sektor pertanian. Lahan garapan petani terancam gagal tanam karena kekurangan pasokan air untuk mengairi sawah.
Aji mengungkapkan, Pemerintah Desa Harjasari sebelumnya sempat meminta suplai air irigasi dari Waduk Cacaban. Permintaan ini diajukan menyusul kondisi Waduk Cipero yang menjadi andalan utama irigasi setempat sedang mengalami kerusakan. Ketergantungan pada pasokan air dari luar wilayah pun semakin besar, baik untuk konsumsi harian warga maupun untuk menghidupi lahan pertanian di tengah musim kemarau yang masih berlangsung.