JAWA TENGAH — Lini kartu grafis Nvidia generasi terbaru sedang berada dalam situasi pasar yang tidak normal. Harga eceran RTX 5090, GPU konsumen paling bertenaga dari arsitektur Blackwell, telah melonjak jauh dari harga resmi yang diumumkan saat peluncuran perdana.
Keputusan Nvidia menunda kehadiran RTX 5000 Super Series diduga kuat merupakan respons atas kondisi pasar yang kacau. Daripada merilis produk baru dengan harga yang sulit diprediksi, pabrikan memilih wait and see sampai rantai pasok kembali normal.
Data kuartal ketiga 2026 menunjukkan kenaikan harga yang liar di pasar global. Dalam sebulan terakhir saja, harga RTX 5090 meroket 20 persen. Jika dibandingkan dengan posisi Februari 2026, kenaikannya sudah menembus 41 persen—rekor tertinggi untuk GPU mana pun dalam enam bulan terakhir.
Kenaikan ini bukan fenomena luar negeri semata. Pantauan di marketplace lokal menunjukkan banderol RTX 5090 kini berada di kisaran Rp 80 juta hingga menembus Rp 100 juta untuk varian tertentu.
Sebagai perbandingan, harga MSRP resmi RTX 5090 saat diluncurkan adalah USD 1.999 atau sekitar Rp 31,5 juta. Artinya, gamer Indonesia harus merogoh kocek hampir tiga kali lipat dari harga patokan jika ingin membawa pulang GPU tersebut sekarang.
Varian standar dari vendor seperti Asus TUF Gaming OC kini ikut terseret ke harga USD 5.090 atau sekitar Rp 80 juta. Padahal, kisaran harga ekstrem seperti itu sebelumnya hanya ditempati oleh GPU special edition super langka seperti MSI RTX 5090 Lightning Z—kartu monster berspesifikasi daya 1.000W dengan dua konektor 12V-2x6, PCB copper 3 oz, VRM 40-phase, dan sistem pendingin AIO.
Di kasta teratas, Asus ROG Astral RTX 5090 Edition 20 bahkan terpantau dijual di retailer Newegg dengan harga USD 5.740 (sekitar Rp 90,5 juta). Ada juga laporan konsumen yang sempat membayar USD 10.000 (sekitar Rp 157 juta) untuk paket bundle edisi ulang tahun Asus, sebelum pesanannya dibatalkan secara sepihak oleh penjual dan memaksa pembeli membayar ekstra USD 500 untuk unit pengganti.
Di tengah harga yang melambung, muncul ironi di sisi performa. RTX 5090 disebut-sebut mulai kewalahan menjalankan game modern pada resolusi ekstrem 6K secara native. Hal ini semakin mempertanyakan rasio harga terhadap daya tahan kartu untuk beberapa tahun ke depan.
Kendati demikian, permintaan pasar tetap tinggi. Kombinasi antara kelangkaan stok dan demam AI yang masih berlanjut membuat GPU flagship tetap menjadi barang buruan, baik untuk kebutuhan rendering maupun sekadar status symbol di kalangan enthusiast.
Dengan tren kenaikan komponen yang terus merembet ke seluruh lini kartu grafis, publik kini bertanya-tanya berapa angka fantastis yang bakal dibanderol Nvidia untuk generasi penerusnya, RTX 6000-series. Untuk saat ini, tidak ada kepastian kapan pasar akan kembali stabil—atau apakah harga flagship akan pernah kembali ke angka MSRP-nya lagi.