JAWA TENGAH — Pengujian yang dipublikasikan terhadap mobil produksi ini mengungkapkan angka-angka yang membuat hypercar kelas atas pun berkeringat. Sejak lahir pada 1975, 911 Turbo memang selalu kelebihan tawaran untuk jalanan umum—tapi generasi terbaru ini membawa kontradiksi yang lebih tajam dari sebelumnya: bobotnya menembus 4.000 pon, namun percepatannya justru lebih brutal dari pendahulunya.
Porsche menyuntikkan teknologi balap 919 LMP1 ke mesin flat-six 3.6 liter. Dua turbocharger elektrik memutar kompresor tanpa menunggu aliran gas buang, menghilangkan turbo lag sepenuhnya pada putaran rendah.
Saat turbo sudah berputar normal, motor listrik di dalamnya berubah menjadi generator. Alih-alih membuang kelebihan tekanan melalui wastegate, energi berlebih diubah menjadi listrik—baik untuk baterai maupun motor listrik yang disisipkan antara crankshaft dan transmisi PDK 8-percepatan. Hasilnya: 701 hp total dengan torsi 590 lb-ft, sementara mesin bensinnya sendiri menghasilkan 631 hp dan 560 lb-ft.
Data pengujian menunjukkan 0-60 mph (sekitar 96 km/jam) dalam 2,2 detik. Quarter mile (402 meter) dituntaskan dalam 10,0 detik dengan kecepatan akhir 138 mph—setara 222 km/jam. Untuk konteks, kecepatan 170 mph (274 km/jam) dicapai dalam 17,1 detik, lebih cepat dari BMW M3 Competition yang butuh 17,1 detik hanya untuk menyentuh 150 mph.
Ada cerita menarik di balik angka ini. Saat pengujian membawa mobil ke drag strip resmi NHRA, peraturan melarang convertible melaju lebih cepat dari 13,49 detik tanpa roll bar. Lari pertama yang mencatat 11 detik mendapat teguran keras. Akibatnya, putaran berikutnya harus mengerem sebelum garis finis—menghasilkan time slip yang konyol seperti 13,6 detik untuk 60 mph.
Dengan 4.005 pon (sekitar 1.816 kg), ini adalah 911 produksi pertama yang melewati batas 2 ton. Namun di skidpad, mobil mencengkeram hingga 1,10 g, dan rem karbon-keramik standar menghentikan laju dari 70 mph hanya dalam 132 kaki (40 meter).
Kuncinya ada pada Porsche Dynamic Chassis Control elektrohidrolik dengan anti-roll bar aktif—semua standar tanpa biaya tambahan. Suspensi sport opsional justru tidak direkomendasikan untuk penggunaan harian, karena mode Normal sudah memberikan kepatuhan yang membuat mobil ini nyaman melaju pelan dengan atap terbuka. Sport Plus dianggap terlalu agresif untuk jalan umum yang tidak mulus sempurna.
Exhaust titanium standar menghasilkan orkestra 98 desibel saat throttle terbuka penuh—dan sebagian suara juga berasal dari intake yang menyedot udara secara brutal. Dengan tenaga 701 hp, menahan pedal gas hampir mustahil. Konsumsi bahan bakar real-world yang tercatat adalah 17 mpg (sekitar 13,8 L/100 km), sedikit di bawah klaim EPA 18 mpg—tapi masih lebih baik dari generasi sebelumnya yang hanya 16 mpg.
Versi cabriolet ini secara unik selalu hadir sebagai 4-seater, berbeda dengan coupe yang standar 2-seater dengan kursi belakang sebagai opsi tanpa biaya. Ini memberi fleksibilitas langka: Anda bisa membawa penumpang belakang, membuka atap, dan menikmati jelajah santai di jalan raya dengan pepohonan palem—selama Anda tidak menyentuh mode Sport Plus.
Ini bukan mobil rasional—tapi siapa yang membeli 911 Turbo S dengan kepala dingin? Mobil ini menawarkan kemewahan langka: bisa menjadi senjata akselerasi paling kejam di jalur lurus, sekaligus