PEKALONGAN — Rombongan Forkopimda Kabupaten Pekalongan turut hadir dalam ziarah yang digelar untuk mengenang jasa Pangeran Mandurorejo, sosok yang disebut sebagai peletak dasar pemerintahan di tanah Pekalongan. Acara ini dihadiri Ketua DPRD, Kepala Kementerian Agama, para kiai, tokoh agama, serta kerabat dan ahli waris Pangeran Mandurorejo.
Di sela kegiatan, Sukirman menyampaikan dua pesan pokok: menjaga kelestarian tradisi warisan leluhur dan menyusun buku ensiklopedia yang mencatat kekayaan sejarah serta budaya Pekalongan.
Gagasan penyusunan ensiklopedia tersebut muncul dari diskusi dengan para pegiat literasi muda di Kabupaten Pekalongan. Rencananya, buku ini tidak hanya memuat peristiwa sejarah dan tokoh, tetapi juga kearifan lokal hingga kuliner khas seperti megono.
"Beberapa tokoh anak-anak muda yang memang pegiat-pegiat literasi mendorong kepada kita semua membuat semacam ensiklopedia yang khusus dari Kabupaten Pekalongan. Macam-macam hal di situ, termasuk Megono dan seterusnya," ungkapnya.
Sukirman menegaskan, penyusunan ensiklopedia tidak cukup hanya mengandalkan dokumen tertulis. Tuturan lisan dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun juga akan dilibatkan agar sejarah yang disusun tetap berakar pada identitas asli masyarakat.
Menurut Sukirman, tradisi ziarah dan tahlilan yang hidup di tengah masyarakat Pekalongan bukan sekadar rutinitas keagamaan. Tradisi ini merupakan cara generasi masa kini menghubungkan diri dengan nilai-nilai luhur para pendahulu dan sudah berakar kuat secara turun-temurun.
Ia juga menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari sejarah, bukan sekadar mengenang masa lalu. Nilai perjuangan pendahulu diharapkan menjadi teladan bagi mereka yang kelak mengabdi kepada masyarakat.
"Karena sekali lagi, tokoh proklamator kita juga mengajarkan, jangan sekali-kali tercabut dalam sejarah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nah, itu pentingnya kita mengambil sejarah sekaligus nilai-nilai luhur yang diajarkan," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Sukirman menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Desa Protomulyo yang selama ini konsisten merawat makam Pangeran Mandurorejo. Ia berharap hubungan baik antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Kendal terus terjalin erat, mengingat ikatan historis yang kuat antara kedua wilayah.
Ziarah ini menjadi pengingat bahwa sejarah Pekalongan tidak bisa dilepaskan dari peran Pangeran Mandurorejo. Keberadaan makamnya di Kaliwungu, Kendal, juga menunjukkan jejak perjalanan panjang yang menghubungkan dua kabupaten di Jawa Tengah tersebut.