SOLO — Fenomena preferensi bahan bakar minyak (BBM) di kalangan pengendara Solo menunjukkan pola yang konsisten. Berdasarkan pantauan di sejumlah SPBU di wilayah Kota Solo, mayoritas konsumen memilih Pertalite dengan pertimbangan utama efisiensi biaya harian.
Pilihan ini dinilai lebih ekonomis untuk mobilitas rutin, terutama bagi pengendara sepeda motor dan kendaraan roda empat yang setiap hari menembus kemacetan perkotaan.
Di sela aktivitas pengisian bahan bakar, sejumlah warga mengaku telah menjadikan Pertalite sebagai pilihan standar. Mereka menyebut selisih harga dengan Pertamax cukup signifikan untuk ukuran pengeluaran transportasi bulanan.
“Untuk harian, Pertalite saja cukup. Kalau memang sedang buru-buru dan antrean panjang, baru isi Pertamax,” ujar seorang pengendara di SPBU kawasan Jalan Slamet Riyadi, Jumat (22/8/2026).
Preferensi ini bukan tanpa alasan. Pertamax kerap menjadi pilihan kedua ketika kondisi tidak memungkinkan untuk menunggu, seperti saat jam sibuk pagi atau menjelang waktu kerja dimulai.
Kondisi tersebut membuat perputaran konsumen di SPBU terbagi jelas. Mayoritas antrean mengular di jalur Pertalite, sementara jalur Pertamax cenderung lebih cepat dan sepi.
Kebiasaan ini terbentuk dari perhitungan sederhana yang dilakukan pengendara setiap kali mengisi tangki. Dengan frekuensi pengisian yang bisa mencapai dua hingga tiga kali dalam sepekan, selisih harga antarajenis BBM langsung terasa di kantong.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kondisi lalu lintas Solo yang padat. Konsumsi BBM cenderung lebih boros saat kendaraan sering berhenti dan berjalan pelan, sehingga pengendara memilih jenis bahan bakar dengan harga lebih rendah untuk menekan biaya operasional.
Pilihan rasional warga Solo ini mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap mempertimbangkan aspek prioritas. Pertamax tetap dianggap sebagai opsi, namun hanya untuk momen yang membutuhkan kecepatan dan kepraktisan.