JAWA TENGAH — Land Transport Authority (LTA) Singapura mencatat rekor baru pada lelang COE perdana Agustus 2026 yang ditutup Rabu (5/8). Harga sertifikat kategori A untuk mobil mesin di bawah 1.600 cc atau listrik bertenaga maksimal 110 kW menyentuh S$123.890, melonjak signifikan dibanding periode sebelum pandemi.
LTA membagi kuota kendaraan ke dalam lima kategori dengan banderol berbeda. Kategori B untuk kendaraan bertenaga di atas 97 kW dibanderol S$129.910 atau Rp1,81 miliar, sementara kategori E untuk semua kendaraan kecuali motor mencapai S$131.000 atau Rp1,82 miliar.
Aturan ambang batas tenaga ini mengubah strategi pabrikan otomotif. Banyak produsen sengaja memangkas tenaga mesin alias detune pada model populer khusus pasar Singapura agar masuk kategori A yang lebih murah.
Jeffrey Siow, Menteri Transportasi Singapura, menyebut permintaan tetap tinggi karena harga mobil listrik yang kompetitif. Di sisi lain, pasokan sertifikat kendaraan kecil di pelelangan justru turun, menciptakan tekanan harga yang terus berlanjut.
Biaya sertifikat yang mahal otomatis mendongkrak harga jual akhir kendaraan. Toyota Corolla yang sudah mencakup COE, registrasi, dan pajak kini dipatok S$179.888 atau sekitar Rp2,50 miliar. Honda Civic non-hybrid dijual S$211.899 atau Rp2,95 miliar, sedangkan Mercedes-Benz GLE menembus S$572.888 atau kisaran Rp7,97 miliar.
Angka-angka tersebut kontras dengan kondisi finansial warga. Median pendapatan tahunan rumah tangga di Singapura berada di angka S$149.352 atau sekitar Rp2,08 miliar, bahkan S$139.000 atau sekitar Rp1,93 miliar.
Lelang terakhir mencatat 1.522 penawaran masuk untuk kategori A yang hanya menyediakan kuota 1.226 unit. Artinya, 302 peminat harus mundur karena kehabisan jatah sertifikat.
Sistem lelang yang diterapkan Singapura membatasi populasi kendaraan hanya sekitar 1 juta unit untuk 6,1 juta warga. Satu sertifikat hanya memberikan hak pakai kendaraan selama 10 tahun, menjadikan mobil sebagai aset bernilai miliaran rupiah dengan masa berlaku terbatas.