JAWA TENGAH — Teaser resmi yang dirilis pekan ini memang belum mengungkap banyak hal teknis, tapi satu hal sudah jelas: AMG tidak mau sekadar membuat versi listrik dari SUV yang sudah ada. SUV ini punya proporsi fastback yang landai, bahu belakang yang bidang ala AMG GT, dan grill khas Panamericana yang kini dibuat tertutup rapat — ciri khas kendaraan listrik. Ini bukan sekadar ubahan gaya, tapi sinyal bahwa AMG serius membangun model performa EV dari halaman kosong.
Posisi model ini penting dipahami. AMG menyebutnya sebagai "dedicated performance model" — artinya ia tidak berbagi platform dengan GLC atau GLE konvensional. Ini sejalan dengan strategi AMG.EA (Electric Architecture) yang memang dirancang khusus dari bawah untuk kendaraan performa listrik.
Arsitektur ini yang memungkinkan AMG memasang motor aksial flux di gandar belakang — teknologi yang selama ini dipakai di AMG One hypercar — plus baterai dengan sel silinder yang dirancang untuk pengosongan daya tinggi secara berulang. Kalau klaim ini benar di produksi massal, karakter berkendaranya akan jauh berbeda dari EQE SUV yang terasa berat dan kurang lincah.
Dari siluet teaser, garis atapnya jatuh landai ke arah belakang — khas coupe-SUV — tapi dengan bahu belakang yang lebih berisi. Ini bukan desain yang aman. AMG jelas mengambil risiko dengan proporsi yang lebih agresif daripada EQC atau EQE SUV, dan itu langkah yang tepat untuk menarik pembeli yang selama ini menganggap SUV listrik Mercedes kurang punya karakter.
Bagian depan memakai lampu utama berbentuk tiga titik yang menyala membentuk signature khas, sementara gril Panamericana versi tertutup tetap dipertahankan sebagai penanda identitas AMG. Di bagian belakang, spoiler aktif dan diffuser yang agresif terlihat jelas — dua elemen yang biasanya baru muncul di varian ber-akhiran "S" atau "E Performance".
Mercedes-AMG mengonfirmasi bahwa prototipe ini sudah memasuki tahap pengujian akhir, dengan produksi dijadwalkan mulai tahun 2026 di pabrik Sindelfingen, Jerman. Artinya, masih ada sekitar satu tahun lagi sebelum mobil ini benar-benar bisa dipesan.
Buat calon pembeli di Indonesia, ini berarti waktu yang cukup untuk memantau perkembangan spesifikasi final dan harga. Yang perlu diperhatikan: jika AMG memakai platform 800V seperti yang dijanjikan, waktu charging 10-80 persen seharusnya bisa di bawah 20 menit — angka yang penting untuk pemakaian harian di kota besar seperti Jakarta, di mana infrastruktur fast charging masih belum merata di luar area tertentu.
Teaser ini berhasil membangun ekspektasi. Desainnya berani, teknologinya menjanjikan, dan posisinya jelas. Tapi sampai spesifikasi final dirilis — terutama angka tenaga, kapasitas baterai, dan waktu charging — masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah SUV ini layak menunggu atau hanya sekadar pemanasan.
Yang pasti, AMG tidak sedang main-main. Mereka tahu Porsche Macan EV sudah menguasai segmen SUV listrik performa, dan mereka ingin merebutnya kembali dengan cara mereka sendiri. Kita tunggu pengumuman resminya tahun depan.