DEMAK — Limbah sekam padi yang kerap dibiarkan menumpuk atau dibakar begitu saja kini coba disulap menjadi produk bernilai ekonomi oleh pemuda Desa Tlogoweru. Inisiatif ini muncul dari program sosialisasi yang digagas mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 93 bersama pengurus Karang Taruna setempat.
Ketua Divisi Ekonomi Pembangunan KKN Posko 93, Danang Kusuma, menuturkan bahwa potensi sekam padi di kawasan pedesaan sangat melimpah. Namun, minimnya pengetahuan membuat limbah tersebut jarang diolah menjadi sesuatu yang lebih berguna.
“Tujuannya supaya masyarakat tahu bahwa limbah sekam padi bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, salah satunya menjadi briket yang memiliki nilai guna dan nilai jual,” ungkap Danang kepada peserta saat sosialisasi, Ahad (9/8) malam.
Dalam pelatihan tersebut, Danang tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis. Ia juga memperagakan langsung proses awal pembuatan briket di hadapan para pemuda yang hadir.
Tahap pertama, sekam padi dibakar hingga berubah menjadi arang berwarna hitam. Arang tersebut kemudian dihaluskan dan dicampurkan dengan bahan perekat berupa tepung.
“Ini pakai tepung tapioka bisa, tepung sagu juga bisa,” ujar Danang menjelaskan alternatif bahan perekat yang mudah didapatkan.
Setelah adonan arang sekam dan tepung tercampur merata, bahan tersebut dimasukkan ke dalam cetakan. Briket yang sudah dicetak kemudian dijemur selama beberapa hari hingga benar-benar kering dan siap digunakan.
Para peserta yang hadir tidak hanya menjadi penonton. Mereka diberi kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung proses pencetakan, dengan bergantian mencoba mencetak adonan yang telah disiapkan oleh mahasiswa KKN.
Salah satu peserta, Galang, mengaku mendapatkan pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. Sebelumnya, ia tidak menyadari bahwa sekam padi yang melimpah di desanya bisa diolah menjadi briket yang memiliki nilai jual.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Karang Taruna Desa Tlogoweru untuk mengembangkan produk briket secara mandiri. Dengan begitu, limbah pertanian yang selama ini terabaikan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga. KKN UIN Walisongo Posko 93 berharap ilmu yang dibagikan dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan oleh pemuda setempat setelah program mereka berakhir.