JAWA TENGAH — Fortescue mempublikasikan video uji coba tes drive CEO Dino Otranto melalui akun LinkedIn pekan lalu. Dalam video tersebut, Otranto mengemudikan haul truck berkapasitas 150 ton yang sepenuhnya ditenagai baterai. Langkah ini adalah bagian dari strategi raksasa tambang asal Australia itu untuk mengeliminasi emisi Scope 1 dan 2 dari aktivitas pertambangan di The Pilbara pada 2030.
“Kami bergerak cepat untuk mendekarbonisasi operasi bijih besi Pilbara dan menghilangkan emisi darat Scope 1 dan 2 pada 2030,” ujar Otranto dalam pernyataan yang dikutip dari unggahannya.
Untuk mencapai target itu, Fortescue harus mengganti ratusan unit alat berat diesel yang sudah habis umur pakai dengan kendaraan zero-emisi. Otranto menyebut pihaknya bangga berada di garda depan inovasi teknologi hijau untuk sektor pertambangan global.
Selain haul truck 150 ton, Fortescue juga telah menguji coba beberapa prototipe listrik lainnya. Di antaranya retrofit elektrik untuk ekskavator Liebherr R 9400 raksasa, truk 230 ton dengan kecepatan pengisian 6 MW, serta lokomotif listrik.
Menurut analis industri IDTechEx, satu unit haul truck 150 ton diesel bisa menghabiskan lebih dari US$850.000 (setara Rp 13,6 miliar dengan kurs Rp 16.000) untuk bahan bakar per tahun. Dengan konversi ke baterai, biaya variabel tersebut bisa ditekan drastis.
Fortescue tidak sendirian. Caterpillar, Hyundai, Bobcat, dan Volvo CE juga memamerkan konsep alat berat listrik di CES 2024. Namun, Fortescue menjadi yang paling agresif dengan target peluncuran komersial di tambang sendiri.
Fakta menarik lain: pada kondisi operasi tertentu dengan regenerative braking tinggi, truk listrik semacam unit 240 ton dari Caterpillar bisa beroperasi tanpa biaya pengisian ulang yang signifikan. Regenerative braking mengubah energi kinetik saat truk menuruni bukit menjadi listrik yang mengisi baterai.
“Perawatan yang lebih rendah dan downtime yang berkurang pada BEV dibanding kendaraan diesel menjadi pelengkap keunggulan total cost of ownership,” tulis Electrek dalam analisisnya. Dengan kata lain, biaya operasional jangka panjang truk listrik tambang bisa jauh lebih murah daripada diesel.
Saat ini Fortescue masih dalam fase uji coba. Namun, langkah CEO yang rela masuk ke kokpit truk raksasa menunjukkan keseriusan perusahaan untuk benar-benar mengoperasikan alat berat listrik di tambang sungguhan, bukan sekadar prototipe pameran. Jika sukses, The Pilbara akan menjadi laboratorium pertambangan nol emisi terbesar di dunia.