Ibu-ibu di Mojosongo Solo Dilatih Olah TOGA Jadi Produk Herbal Bernilai Jual, Ini Caranya

Penulis: Vino Bastian  •  Kamis, 16 Juli 2026 | 17:12:31 WIB
Ibu-ibu di RW 34 Dukuhan Kendal, Mojosongo, Solo, mengikuti pelatihan pengolahan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menjadi produk herbal bernilai jual.

SOLO — Pekarangan sempit di permukiman padat RW 34 Dukuhan Kendal, Dusun Tawangsari, Mojosongo, Jebres, Solo, disulap menjadi ladang ekonomi baru. Tim gabungan KKN UNS dan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Group Research (PKM HGR) FMIPA UNS menggelar pelatihan pengolahan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menjadi produk herbal bernilai guna.

Ketua Tim Pengabdian, Dr. Apt. Rita Rakhmawati, S.Farm., M.Si., mengatakan program ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada warga, terutama ibu-ibu. Mulai dari teknik budidaya di lahan terbatas, penggunaan herbal yang aman, hingga strategi pengemasan produk.

“Kami ingin agar masyarakat, khususnya ibu-ibu di Tawangsari, memiliki pemahaman yang komprehensif. Mulai dari cara menanam yang praktis, penggunaan herbal yang aman, hingga bagaimana mengemas produk tersebut agar memiliki nilai jual,” ujarnya.

Teknik Budidaya di Lahan Sempit yang Disambut Antusias

Materi budidaya menjadi sorotan utama. Warga dikenalkan metode menanam TOGA yang praktis tanpa membutuhkan lahan luas. Sekretaris RW 34, Edi, mengaku teknik ini langsung mendapat respons positif karena mudah ditiru di lingkungan permukiman.

“Jujur kami sangat senang. Teknik ini ternyata mudah, praktis, tampak cantik, dan benar-benar tidak membutuhkan banyak lahan. Sangat cocok diterapkan di pekarangan rumah kami yang sempit,” katanya.

Edukasi Keamanan Konsumsi Herbal bagi Kelompok Rentan

Tak hanya soal budidaya, peserta juga mendapat edukasi tentang penggunaan obat tradisional secara aman dan tepat. Tim pengabdian mengingatkan agar herbal tidak dikonsumsi sembarangan, terutama oleh ibu hamil, lansia, dan balita. Warga diminta selalu memperhatikan aturan pakai serta dosis yang rasional.

Kunci Produk Herbal Tembus Pasar: Kemasan dan Pemasaran Digital

Rangkaian pelatihan ditutup dengan sesi kewirausahaan. Materi mencakup pemilihan bahan baku higienis, proses pengemasan, pencatatan keuangan sederhana, hingga pemasaran digital. Salah satu pemateri, Bilqish, menekankan pentingnya kualitas produk dan kemasan informatif agar mampu bersaing di pasaran.

“Kunci agar produk herbal kita bisa bersaing di pasaran adalah kualitas produksi dan kemasan yang informatif. Warga juga kami latih memanfaatkan smartphone untuk memotret produk dan memasarkannya melalui media sosial agar jangkauan pembelinya lebih luas,” ujarnya.

Program kolaborasi KKN UNS dan PKM HGR FMIPA UNS ini diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi warga sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan SDG 8 tentang pertumbuhan ekonomi.

Reporter: Vino Bastian
Sumber: joglosemarnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top